Chapter #3 : Nunggu Terus Dilempar

Chapter 3

1..2..3..jam
Memasuki hari kedua program KP. Pihak training mengatakan bahwa badge atau tanda pengenal untuk kami akan siap pagi ini. So, ga usah nunggu lama lagi, kita langsung berangkat menuju security section untuk mengambil badge.

Tujuan pertama pagi ini adalah security section. Pukul 7 pagi kita harus sudah siap. Sayang hari ini aku dan Ratno bangaun kesiangan. Sekitar setengah enam kami baru bangun. Entah kenapa, tapi… ya sudahlah, harus segera bersiap dan tak boleh lupa sarapan pagi. Wow… kali ini ada menu nasi kuning.

Pukul 7 kami sudah siap do lobby apartemen begitu juga bus yang akan mengantar kami. Kami berangkat bersama rekan-rekan satu apartemen yang juga berasal dari ITB. Ada Lukman (TI), Gumilang dan Kemal (MS).

Bus menuju security section terlebih dahulu setelah itu menuju lab. Sampai di security section kami bertiga menunggu (karena kami memang diminta untuk menunggu). 10 menit… 30 menit… 1 jam… belum beres juga. Masih menunggu…. k*****, lama banget.

Pegawai yang ada di sana hanya mengatakan: “sabar ya…”, lalu aku jawab: “ya…”.

Tingkat kebosanan kami sudah mulai memuncak. Ratno malah ketiduran di ruang tunggu, tapi ga lama, terus bangun lagi. Aku coba OL lewat HP. Terus dicoba, akhirnya bisa. Tapi sayang, ga ada yang mo diajak ngobrol. Tiba-tiba Maya mengeluarkan sesuatu. Kotak pipih yang dibungkus penutup warna merah muda. Penutupnya mulai dibuka. Mmm…. ternyata notebook. Compaq Presario Maya mulai diaktifkan. Buka-tutup folder ga jelas, lalu membuka satu aplikasi, sepertinya game tertentu. Tapi lalu ditutup lagi.

Tiba-tiba dia sedikit berbisik, “Rob, main scrabble, yuk?”. Ok, daripada bengong ga jelas lebih baik ada kegiatan. Hampir satu jam main, tapi belum ada kabar tentang kartu sakti itu. Tiba-tiba ada petugas datang , waduh aku kira mo marah gara-gara kita main scrabble atau mungkin mo ikutan main, eh ternyata dia datang membawa badge pesanan kita.

Weis… keren cuy! Ada tiga biji. 400345 adalah nomor yang ada pada badge milikku. Ketiganya berlatar kuning dengan foto diri mendominasi bagian depannya. Tepat di bawah foto, terdapat nomor (entah nomor apa, mungkin menyatakan bagian dari keluarga besar PT Badak…) yang warna latarnya merah. Memang ada beberapa macam kartu yang dibuat, ada yang berwarna merah, kuning, dan merah-kuning. Warna kuning menyatakan bahwa pemilik kartu tak diperkenankan memasuki plant dalam waktu apapun, sedangkan warna kuning-merah berarti hanya dapat memasuki plant pada siang hari. Terakhir adalah warna merah yagn artinya dapat memasiki plant setiap saat. Nah, tanda di bedge kami berwarna merah yang berarti bahwakami dapat memasuki plant kapan pun (tentu dengan izin pembimbing). Ck…ck…ck… keren bow!

Ok, buang-buang waktunya sudah cukup. Sekarang kita balik ke training section menunggu agenda selanjutnya. Pukul 10 lewat kita sampai di sana dan ternyata harus menunggu lagi dan lagi sampai waktu istirahat. K*****, setengah hari ini kerjaannya cuman nunggu doang, jangan-jangan bakal kejadian sampai seharian penuh, waduh… jangan sampe dah…!

Titik terang
Istirahat kembali keapartemen dan tak lupa makan siang. Setalah itu balik lagi ke training section. Ternyata ada titik terang, lokasi di mana kami akan ditempatkan sudah siap, so ga usah nunggu lama lagi kita langsung menuju lokasi, Facilities Engineering. Lokasinya ada di gedung TOP (ga tau kepanjangannya apa). Masuk ke dalam gedung langsung menuju sekretaris untuk mengurus administrasi, ngobrol sebentar lalu bertemu dengan head section FE (FE ini bukang Fundamental Engineering tapi Facilities Engineering). Namanya Pak Deded yang ternyata juga lulusan Teknik Fisika, ada juga Pak Mardjoko sebagai salah satu engineer di sana (yang juga lulusan TF). Pak Mardjoko ini yang akan membimbing kami sementara pembimbing sebenarnya sedang cuti, yaitu Pak Hendra (yang lagi-lagi lulusan TF ITB). Ck…ck… kayak di rumah sendiri aja, banyak anak TF (dengan-denger sih ada 7 lulusan TF di bagian ini).

FE
Hasil obrolan singkat di ruang Pak Deded mengindikasikan bahwa kemampuan seorang lulusan TF sangat berguna di industri ini, karena hanya lulusan dari TF ini yang mengerti benar jalannya instrumentasi untuk menggerakkan industri ini. Bahkan tak hanya instrumentasi, tetapi juga dituntut untuk mengerti juga lahan proses industri yang sedang berjalan, karena tak mungkin kita merancang sistem instrumentasinya tanpa kita mengetahui jalannya proses industri itu sendiri. Yaaa… tak perlu mengerti proses pembuatan gas alam secara detil, cukup secara garis besar saja. Tak perlu mengetahui persamaan reaksinya pun tak apa-apa.

Intinya aku dibuat bangga ketika berbicara dengan Pak Deded ini. Betapa kita begitu berguna dan penting, sekali lagi aku katakan bahwa aku bangga. Sampai-sampai beliau berkata bahwa engineer dari TF ini sebagai orang yang serba tahu, mulai dari proses sampai instrumentasi dan bahkan mungkin juga elektronikanya. Waduh …. di satu sisi memang membanggakan tapi di sisi lain terasa kepercayaan dan tanggung jawab yang begitu besar berada di pundak para engineer TF.

Pembicaraan dilanjutkan dengan Pak Mardjoko di ruangannya. Sekarang sudah berbicara teknis kegiatan termasuk penjadwalan. Tapi sayangnya beliau belum membuat jadwal kegiatan kami karena beliau belum mengetahui perihal kedatangan kami. Yo weis… tak apa-apa. Btw, Pak Mardjoko ini orangnya bersemangat walaupun akan memsuki masa purnabakti a.k.a pensiun tapi beliau terlihat masih bersemangat. Cara bicaranya yang meyakinkan dan lantang menunjukkan hal itu.

Dilempar ke maintenance
Sambil Pak Mar menyelesaikan penjadwalan kegiatan, kami “dilempar” ke bagian lain, maintenance. Di sana bertemu dengan Pak Defta yang lagi-lagi lulusan TF ITB angkatan 2000, masih muda dan energik, supel dan sepertinya sangat inging berbagi ilmu.

Bicara sebentar di ruangannya sambil kenalan lebih jauh. Pake membahas Pak Yul dan buku Ogata segala. Btw, ternyata dia masih pake buku sakti itu untuk menunjang kerjaannya. Waduh… emang ntu buku sakti banget ya! Mas Defta (dia ga mau dipanggila Pak) ini bekerja di bagian instrumentasi, urusannya dengan DCS, PLC dan sejenisnya, melayani berbagai perbaikan sistem dan juga pemeliharaannya.

Ada kata-kata penting yang aku ingat dari dia tentang perbedaan ketika seseorang menjadi mahasiswa dan sudah menjadi pegawai. Pegawai itu sebaiknya tidak banyak tanya tentang apa yang ia tidak ketahui kerena ia memang dibayar untuk itu, yaitu untuk mencari tahu sendiri apa-apa yang tidak diketahui baik tidak diketahuinya maupun tidak diketahui orang lain. Sedangkan mahasiswa sebaiknya banyak bertanya (karena mahasiswa membayar untuk bertanya dan mendapat pengetahuan). Oh, iya dia bilang biaya yang dikeluarkan PT Badak untuk seorang mahasiswa yang KP sekitar 27 juta !! wow…. gede banget ya !! ga boleh disia-siakan nih..

Mas Defta mengajak kami berkeliling daerah maintenance ini sambil kenalan dengan beberapa pegawai di sana. Suasana kekeluargaan terasa banget, tak ada rasa canggung ketika bertemu dengan atasan atau pegawai senior. Semua saling mengatakan “saya masih belajar, dia lebiha tahu” sambil dibalas lagi “…ah dia merendah…, saya yang belajar sama dia”. Kira-kira seperti itu.

Ada bagian workshop yang menangani elektronika. Lalu masuk ke bagian analyzer. Mas Defta benar-benar menawarkan kepada kami seandainya inging mendalami analyzer karena ada alat yang ingin dihibahkan ke TF namun sampai saat ini belum tahu siapa yang akan mendalaminya. Singkat kata, analyzer ini adalah alat yang berfungsi menganalisis komposisi larutan zat (dalam hal ini gas). Gas yang akan dianalisis dibandingkan dengan susunan gas standar sehingga kita peroleh kompisisi gas tersebut. Hal ini sangat penting untuk keberjalanan proses industri. Entah sensor apa yang  dipakai di alat tersebut, namun yang jelas resolusi sensornya harus tinggi karena kompisisi gas bisa sangat kecil.

Jalan-jalan dilanjutkan ke tempat lain. Lalu bertemu dengan lebih banyak orang lagi dan ada juga lulusan TF ITB yang lain. Masuk ke salah satu bagian kantor, kita bertemu dengan Pak Herpuguh yang katanya ahli proses dan akan segera pensiun jadi beliau sedang intensif membagi ilmunya kepada para juniornya. Orangnya ramah, beliau hapal beberapa orang TF yang KP sebelum kami. Beliau menunjukkan fotonya beserta dua orang peserta KP sebelum kami. Dilihat sekilas lalu aku jawab “Ilham dan Bram!”. Ya, itu foto beliau bersama mas Bram dan kang Ilham. Oo… ternyata dua orang ini memeberi kenangan tresendiri di PT Badak.

Sudah cukup lama berkeliling tak terasa waktu kerja sudah hampir selesai. Sebelum kembali ke ruang mas Defan, kita ketemu lagi dengan beberapa pegawai yang lain. Bahan permibacaraan kita ga berat, kita malah membicarakan dosen-dosen yang masih aktif, seperti Pak Yul, Pak Harijono (yang menurut mereka adalah gurunya Pak Yul), mereka bertanya juga perihal Pak Andrianto. Waduh…. seperti di rumah sendiri nih, bahan pembicaraannya tentang keluarga sendiri. Ck…ck… makin betah aja di sini…

Kembali ke ruang kerja mas Defta untuk membicarakan agenda besok. Wah…ternyata dia ngajak kita untuk mengunjungi zone 1 (inti pabrik ini). Ok, keknya besok bakal lebih seru nih…..

Lunas
Well, its enough for this day and we have to back to the apartement. See u tomorrow.

Sampai di apartemen, kita diajak berenang bareng penghuni lain. Ok, sapa takut, btw udah lama juga ga berenang.

Sampai di kolam renang. Tidak terlalu ramai. Berenang ke sana- ke mari, bolak-balik. Capek juga. Udah ah. Eh, ternyata bari setengah jam tapi rasanya udah capek banget. Langsung pulang ke apartemen. Mandi dan langsung makan karena energi sudah sangat terkuras untuk berenang. Makan dengan lahap langsung tidur…………..

Fiuh…. kesabaran dan kekesalan selama setengah hari tanpa kepastian terbayar sudah. Status dari fully bored menjadi exicitting!!.

***

Advertisements
Posted in the journey to Borneo | Leave a comment

Chapter #2 : Malam Pertama…

Chapter #2
Malam Pertama…
Setelah lelah menempuh perjalanan panjang, melintasi pulau dan lautan. Sekitar 12 jam kami habiskan untuk sampai ke tanah Borneo ini. Fiuh… akhirnya sampai.

Tiba di PT Badal NGL langsung dianter ke apartemen Nam Nam, mmm…. kira-kira Nam Nam artinya apa ya? Ada yang tahu? Ok, nanti kita cari tahu.

Malam pertama di Nam Nam sudah cukup untuk mengembalikan stamina yang telah lelah meskipun demikian cukup terganggu juga dengan suara berisik dari blower yang berada di setiap ruangan di apartemen ini. Blower ini mengisap udara dari dalam ke luar ruangan agar kenyamanan ruangan terjaga. Ok, tidur dengan nyenyak sebelum menghadapi hari pertama kegiatan Kuliah Kerja.

Wah… sudah pagi. Bangun dengan segar lalu siap-siap “ngantor”, hehe…. Tapi jangan lupa satu hal  penting, makan! Sebelum beraktivitas lebih jauh, sebaiknya kita sarapan dulu. Restoran Nam Nam mulai buka sejak pukul 6 hingga 7.30 pagi untuk melayani sarapan para penghuni. Menu kali ini ada ayam, hati, telur, dan sayur. Sebagai penutup selalu tersedia buah-buahan dan ice cream.

Tujuan pertama adalah training section untuk melaporkan kedatangan sekaligus mendapat arahan kegiatan. Pak Finny dan Ibu Yanti menjelaskan beberapa aturan mengenai kerja praktik di sini. Cukup lama kami berbicara, sekitar satu jam. Dari beberapa hal yang disampaikan, ada hal yang cukup penting, yaitu mengenai keselamatan dan ketertiban. Selain itu juga ada hal yang tak kalah penting, yaitu ucapan Pak Finny: “… satu lagi yang penting, terutama untuk yang perempuan, kalian tahu kan di sekitar kita ini ada beberapa orang dari Yaman? Ya, mereka berasal dari Yaman NGL, mereka sekarang sedang belajar di sini. Saya sampaikan tolong hati-hati… kita kan tidak tahu mereka, kita tidak berprasangka buruk tapi saya sampaikan tolong sangat hati-hati. Ya… siapa tahu kalian mendapat jodohnya kan ? dan untuk yang pria, di sini juga ada mahasiswa dari Samarinda yang sudah datang lebih dulu, ya… silakan berkenalan, siapa tahu jodoh kalian juga dapat di sini. Ok, hati-hati ya..!”. Kira-kira itulah beberapa hal yang disampaikan oleh mereka berdua.

Magic card
Tujuan selanjutnya adalah ke bagian security untuk membuat bedge atau tanda pengenal. Aku dapat katakan bahwa ini adalah kartu sakti karena kartu ini sangat berguna selama kita berada di tempat ini. Kartu ini menjadi identitas kita dan tak boleh hilang karena hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan kartu ini. Kartu ini juga dilengkapi dengan sistem kunci otomatis (mungkin ada RFID-nya) untuk memasuki kawasan tertentu.

Selama persiapan pembuatan kartu, kami disuguhkan tayangan profil PT Badak NGL. Kita dapat mengetahui bahwa cadangan gas alam yang ada di Indonesia tergolong melimpah bahkan menjadi salah satu yang terbesar.

Ada dua titik penting penambangan gas alam, yaitu di Natuna sebagai yang terbesar (mencapai 50an Ton Cubic Feet) dan di Badak (mencapai 40an TCF). Lokasi penambangan Badak diketahui memiliki potensi besar dari hasil penelitian tim dari HUFFCO sekitar tahun 1972. Ketika hal tersebut diketahui, sekitar satu tahun kemudian pemerintah Indonesia melalui Pertamina membuka kerja sama dengan perusahaan swasta asing dan membuahkan sebuah deklarasi kerja sama pada tahun 1973. Salah satu kesepakatan kerja sama itu adalah mengenai pembagian hak kepemilikan yang terdiri atas pertamina 55%, HUFFCO 30%, dan JILCO 15%. Pada 1990 terjadi pengalihan saham dari HUFFCO ke VICO dan TOTAL Indonesie, sehingga kepemilikan sahamnya menjadi Pertamina 55%, VICO 20%,  JILCO 15%, dan TOTAL Indonesie 10%.

Pimpinan tertinggi masih dipegang oleh orang dari Pertamina sebagai pemegang saham tertinggi. Struktur PT Badak cukup rumit, tapi aku coba sederhanakan sesuai kebutuhan. Salah satu divisi yang dimiliki PT Badak adalah Manufacturing Division yang di dalamnya terdapat Technical Departement yang membawahi Facilities Engineering Section. Nah… posisi kami ditempatkan, Facilities Engineering Section. Entah hal apa yang dilakukan di seksi ini, belum ada penjelasan, semoga segera aku ketahui. Namun profil singkat mengenai seksi ini adalah bahwa seksi ini bertanggung jawab atas pemeliharaan dan perbaikan terhadap instrumen yang dipakai dalam proses, sepertinya memang senada dengan ilmu yang diperoleh di Teknik Fisika. Mm… penjelasan lebih jauh akan kita bahas kemudian.

PT Badak ini meghasilkan gas alam cair yang merupakan hasil pengolahan yang tak sederhana dari gas alam dengan berbagai pengotornya. Produk sampingannya adalah LPG. PT Badak mengimpor hasil produksinya ke Taiwan, Jepang, dan Korea.

Itulah kisah singkat tentang proses permohonan badge warga PT Badak, rumit juga proses pembuatan kartu ini. Mulai dari menonton profil PT Badak lalu harus mengisi berbagai form data termasuk cap jari dan pemotretan. Ok, proses permohonan sudah selesai, tinggal menunggu kartunya jadi.

Wah.. sudah pukul 11.30, hampir masuk waktu istirahat. Setelah laporan ke bagian training, kita balik lagi ke apartemen dan … yang pasti, kita makan siang.

Di perpustakaan (yang membosankan)
Setelah makan siang, agendanya terasa membosankan karena kita hanya diminta berkunjung ke perpustakaan lalu mempelajari beberapa lapran Kerja Praktik yang lalu. Daripada bosan duduk, aku keliling perpustakaan, malihat beberapa koleksi yang dimiliki. Wah… ada Encyclopedia Britanica dan Encyclopedia America yang lengkap tapi buka itu yang aku cari, aku manuju  kolom Teknik Fisika. Lumayan, ada beberap salinan laporan KP. Beberapa nama sepertinya aku kenal dan selebihnya entahlah.

Sekilas aku baca beberapa laporan tersebut. Ternyata beberapa istilah membuatku mengalami deja vu. Istilah seperti: boiler, velocity meter, combustion chamber, power turbine, proximity probe sensor, vibration monitoring, dan beberapa istilah lainnya. Wah.. baru kerasa ilmu yang aku pelajari di bangku kulah. Oooo…. ternyata ini gunanya. Baru sadar…

Salah satu laporan berisi tentang pengukuran getaran turbin (turbine vibration monitoring). Kegiatan itu menggunakan sensor getaran sebagai alat bantunya. Selain itu ada juga Kerja Praktik yang memanfaatkna DCS dan PLC sebagai alat bantunya.

Termodinamika, Metode Pengukuran, Teknologi Sensor, Fenomena Transport, dan mata kuliah lainnya yang baru aku benar-benar sadari manfaatnya.

Yup, sudah pukul 15.30, 30 menit lagi jam kerja selesai. Kita harus segera melapor kembali ke bagian training. Laporan selesai begitu juga dengan agenda KP hari ini. Mmm…. cukup membosankan, ga ada hal yang atraktif. Kalo setiap hari seperti ini, bisa mati bosan atau lebih baik diam di apartemen dan nonton HBO atau ESPN, pasti lebih seru…..

Pulang ke apartemen lalu menunggu saat makan malam. Manu malam ini adalah gulai kambing dan grill. Waduh…. kenapa gulai kambing ? apa ga ada makanan lain ?

Akhirnya hanya makan nasi dengan ditemani kendang dan sayur. Kurang kenyang tapi masih ada desert yang menggoda, cukup untuk memenuhi perut yang masih kosong.

Alhamdulillah…. hari pertama selesai, masih ada sekitar 50an hari ke depan, mm… semoga semakin seru dan menarik.

Sebelum tidur, nonton dulu, lumayan dapet “Mr. Bean’s Holiday” dan “Mission Impossible 3”.

Ok, selamat tidur…

***

Posted in the journey to Borneo | 2 Comments

chapter #1

Pabrik PTB

Pabrik PTB

3 a.m.

Penantian selama sekitar setengah tahun akgirnya terjawab juga. Mengajukan lamaran Kerja Praktik sejak November 2007 lantas mendapat jawaban pada Januari 2008. Setelah mengurus segala administrasi dan segala persiapan yang diperlukan, akhirnya pada 9 Juni 2008 kami (saya, Ratno, dan Maya) memulai keberangkatan menuju Bontang , Kalimantan Timur.

Pergi dari rumah sekitar pukul 3 dini hari karena mendapat jadwal keberangkatan pesawat dari Soekarno-Hatta pukul 9 pagi. Pukul 4 pagi kami berengkat dengan bus menuju BSH. Sampai di BSH pukul 7 pagi, lumayan untuk istirahat sebelum take off. Pukul 8 harus sudah check in di bandara lalu menunggu keberangkatan Garuda Indonesia GA512 economy class. Setelah berbagai pemeriksaan, kami masuk ke pesawat dan………….

Alhamdulillah take off berlangsung lancar. Wah…ini pengalaman pertama saya naik pesawat… seru bos.. apa lagi pada detik-detik take off , menegangkan….

Selama berada di dalam pesawat, ponsel tak boleh diaktifkan. Ponsel yang kita gunakan melibatkan sejumlah sinyal dengan frekuensi tertentu. Pesawat pun menggunakan sinyal tertentu dalam dalam sistem navigasinya. Jika sinyal ponsel hadir ketika sinyal navigasi pesawat sedang aktif, maka sinyal ponsel itu akan berperan sebagai noise. Ngerti maksud noise, kan ? kalo pernah ngambil Pengolahan Sinyal pasti tau maksudnya noise. Noise ini akan sangat mengganggu karena dapat menyamarkan sinyal navigasi pesawat yang dibutuhkan. Kerja signal filter akan semakin berat dengan kehadiran noise ini. Jika noise ini tak mampu dihilangkan, maka sistem navigasi pesawat akan benar-benar terganggu dan jika sistem ini terganggu, maka aku jamin penerbangan kita akan sangat tidak menyenangkan.

Tak lama kemudian, mbak pramugari sibuk menawarkan makanan dan minuman kepada para penumpang. Sesaat aku berpikir… itu makanan gratis apa bayar ya ??? bertanya-tanya sendiri… aku teringat perjalanan memakai kereta, ketika itu para petugas kereta api menewarkan makanan dan minuman dua kali. Penawaran pertama memang gratis tapi yang kedua ternyata bayar (aku diberitahu penumpang sebelahku bahwa makanan itu bayar). Saat itu keretanya kelas bisnis. Nah… berdasarkan pengalaman tersebut, aku jadi bertanya-tanya tentang status makanan yang ditawarkan si mbak pramugari itu.

Semakin dekat…semakin dekat…. akhirnya sampai di kursiku. Ahhh…. embat aja lah (masa’ embat aja dong…). Tanpa tanya-tanya lebih jauh, langsung saja aku jawab penawaran si mbak dengan: “nasi goreng….. “ kemudian “teh manis..”. Makan dengan tenang. Melihat sedikitnya makanan yang disuguhkan, aku pastikan bahwa ini makanan gratis. Yes !!! ternyata memang gratis…. (sayang ga bisa nambah…).

Turbulance

Perjalanan memakan waktu 1 jam 53 menit (info dari Pak Pilot). Penerbangan mamasuki setengah perjalanan, tiba-tiba suara pak Pilot dan mbak Pramugari terdengar dari pengeras suara secara bergantian menyampaikan kondisi penerbangan terkini. Inti kabar yang disampaikan adalah bahwa penerbangan kami saat itu kurang baik karena tidak didukung cuaca yang bagus. Olehkarena itu semua penumpang harus selalu mengenakan sabuk keselamatan. Waduh …. masa’ penerbangan pertama langsung mendapat pengalaman yang buruk. Beberapa kali berita itu diperdengarkan. Selain itu ditambah juga kabar lain yang menyatakan bahwa kondisi suaca Balikpapan saat itu sedang gerimis. Mmm…… semakin menegangkan saja. Bung …..

Beberapa kali terasa gerakan pesawat yang bergoyang ke sana ke mari dan terasa juga beberapa guncangan kecil. Pesawat berada sekitar 130 000 kaki di atas permukaan laut. Oleh karena itu yang terlihat dari jendela penumpang hanyalah gunpalan awan putih dan langit biru.

Rupanya penerbangan hampir beres. Pak Pilot mengatakan bahwa kita akan sampai sekitar pukul 12.53. Lalu saya liat jam tangan…. lho !!! qo masih jam 10.30an ?? masih lama dong … sesaat pikiran itu muncul, tapi tak lama lalu tersadarkan bahwa saya sudah memaasuki waktu Indonesia tengah, artinya waktu lebih cepat satu jam. Weleh …weleh…. bodo kali ..

Welcome to Boardreverse

Sekitar pukul 1 siang kami tiba di bandara Sepinggan Balikpapan, alhamdulillah… lancar..

Sampai di Balikpapan, kami bertiga sedikit bingung harus ke mana (maklum baru pertama kali). Lalu teringat sesuatu bahwa PT Badak punya kantor perwakilan di bandara tersebut. Sip… langsung cari dan melapor. Yup… ketemu, segera bicara dengan petugas yagn ada di sama.

Pak Petugas menunjukkan beberapa lembar kertas yang berisi daftar nama. Wah…. ternyata ada nama kami ditambah Dini. Mmm…bingung, qo ada nama Dini ya ?? tapi, sudahlah… ga perlu diurus lebih lanjut.

Petugas itu memberi kami 3 tiket penerbangan perintis dengan Pelita Air menuju Bontang. Check in pada pukul 13.00. wah …masih jam setengah satu, istirahat dulu setengan jam.

Jam 1 kurang 10 menit, kami mengantri di loket Pelita Air.

Saya yang dapet giliran menghadap petugas di loket yng kebetulan cewe. Tak banyak bicara, hanya pembicaraan yang aku kira pembicaraan yang sudah standar. Aku ditanya apakah akan menggunakan jasa bagasi, lalu aku jawab “ya..”, lalu bagasi kami ditimbang. Setelah semuanya ditimbang, si mbak itu memberikan kembali tiket kami beserta beberapa tambahan tempelan. Lantas aku bertanya: “bagasinya, mbak ?” Lalu si mbak menjawab: “kan sudah ada tandanya tertempel di tiket…”. Bingung…. dalam hati aku bergumam, maksudnya bertanya tentang bagasi itu apakah jasa bagai itu bayar atau tidak dan kalau harus bayar, berapa bayarnya… eh… malah mendapat jawaban yagn lain… tapi ya sudahlah. Kami pergi dan kami anggap jasa bagasi itu tak bayar (karena petugasnya tak pernah menagih bayaran).

Jadwal keberangkatan pukul 14.45, so masih ada waktu luang lumayan banyak. Makan siang sambil istirahat sebentar sambil chatting. Gak kerasa udah jam 2 lewat. Yup, bergegas ke ruang tunggu dekat pintu masuk pemberangkatan.

Menuju Bontang

14.30, kami mulai check in lalu masuk bus yang mengantar kami menuju pesawat perintis. Pesawat Pelita Air Dash 7 emang ga segede boeing 737 yang kita pake sebelumnya karena Cuma buat skala antarkota dalam pulau (alah… mirip bus aja, antarkota dalam propinsi). Pesawat berangkat sekitar jam 3 kurang 1/4. Mmm… kebisingan pesawat cukup menggangu penumpang, sampe2 klo kita ngobrol harus agak keras. Eh, ada yang lucu. Waktu pake Garuda, informasi keselamatan penerbangan disampaikan secara visual lewat televisi sedangkan di pesawat perintis ini aturan keselamatan diperagakan langsung oleh mbak pramugari (yang lumayan… tinggi…). Hal yang aneh adalah si peraga gak berbicara sama sekali tentang apa yang sedang ia lakukan karena suara pengantarnya berasal dari pengeras suara (yang ga keras dan ga jelas sama sekali) yang pembicaranya entah berada di mana. Jadinya pengen ketawa sendiri, seolah dia lagi main pantomim (hehe… maap ya mbak..). Pengen ketawa tapi ga etis padalah aku ykin bahwa kebanyakan penumpang juga pengen ketawa (sekali lagi maapin ya mbak…).

Take off lancar sampai ketinggian sekitar 30 000 kaki. Pemandangan bumi Borneo dari udara muali tampak. Amazing….. di sekitar bandara perumahan penduduk cukup ramai namun semakin ke dalam yang ada hanyalah hamparan pemandangan hijau dan diselingi garis2 coklat dan hitam. Mamang seperti itu suasana Kalimantan Timur ini. sebagian besar masih ditutupi kebun dan hutan lebat. Lebatnya hutan Borneo dibelah keelokan sungai-sungai besar khas Kalimantan. Sepanjang perjalanan pemandangan seperti itu seolah tak ada habisnya, sesekali terlihat sekelompok perumahan penduduk. Jangan dibayangkan bahwa maksud “sekelompok” itu berarti posisi rumah yang saling berimpitan seperti di tanah Jawa ini, karena jarak tedekat antar rumah bisa tiga hingga lima kali lebar rumah tersebut dan jarak antak sekelompok rumah saya ibaratkan seperti jarak antar kecamatan di Bandung. Satu rumah bisa memiliki pekarangan yang luasnya mungkin tiga kali ukuran rumahnya.

Perjalanan berhenti sejenak di PT VICO lalu berangkat lagi menuju PT Badak yang jaraknya hanya sekitar 15 menit penerbangan.

Tampak dari atas pesawat pemandangan pantai dan laut lepas. Tampak pula anjungan lepas pantai dan kapal-kapal tanker yang pabalatak di sana-sini. Dari atas pesawat, anjungan itu hanya sebesar kuku jari kelingking (yaa.. kira-kira lah..).

Semakin dekat… dekat…..

Tanki-tanki besar mulai terlihat, pipa-pipa saluran (bukan pipa paralon saluran air) berukuran jumbo juga mulai terlihat, sepertinya pipa untuk menyalurkan gas. Pemandangan ini menandakan bahwa kami sudah sampai di lokasi PT Badak NGL.

Pesawat mendarat dengan mulus. Ambil perlengkapan lalu masuk ke lobby kedatangan dan….. lagi-lagi…. bingung mo ngapain. So, kita tanya pak satpam (yang kayanya orang jawa). Setelah ditanya perihal kedatangan kita, ternyata memang tak ada yang benar-benar sedang menunggu kedatangan kami. Tapi jangan khawatir, ada yang siap nganter. Ok, kami tunggu, Pak ….

Apartemen ??

Sepuluh menitan, mobil jemputan datang dan kami diantar ke apartemen (mereka mentebutnya demikian). Ternyata nama kami sudah ada di daftar penghuni, so tinggal ambil kunci dan…selamat menikmati…

Kami dapet dua kamar. Aku tidur bareng Ratno (maksudnya sekamar dengan Ratno) klo Maya tidur bersama… barang bawaannya, seperti baju, laptop, dll dan yang pasti tidur bersama… doa restu kedua orang tuanya.

Gak salah emang klo tempat ini disebut apartemen karena fasilitasnya, bung… maknyuuusss… setiap kamar memiliki AC dan ada dua tempat tidur springbed lengkap dengan kamar mandi dan televisi bersaluran indovision. Lumayan lah… bisa nonton final NBA (LA Lakers vs Glasgow Celtics). Ck…ck..ck… bahaya nih… bisa-bisa gak mau pulang…..

Ok… istirahat bentar terus mandi, btw baru sadar klo kami belum mandi sejak berangkat dari Bandung..(waaa…). Setelah beres-beres pakaian dan istirahat bentar terus mandi supaya gak mengganggu kenyamanan orang lain. Abis mandi terus solat Magrib dulu, bos… baru makan.

Well, di sini ternyata udah ada anak ITB yang datang duluan. Dua orang T. Mesin dan seorang T. Industri. Lumayan buat temen ngobrol.

Nah… ini nih bagian yang gak boleh dilupakan… makaaaan. Masuk ke tempat makan, restoran. Gratis, cuy !!! masuk ke ruang makan, weleh…weleh…. gak kebayang klo 2 bulan di sini berat badan bakal nambah berapa kilo ya…..

Meja pertama tepat setelah pintu masuk adalah sajian makanan berat ala paresmanan. Wow… ngambil sesuai selera. Duduk di meja makan yang tersedia. Tengok ke kanan sedikit, ada semangka dkk. yang pasti menyegarkan. Tengok kiri dikit, ada sirup melon dan ice cream mirip flurry-nya McD. Pas banget di hadapan, ada minuman hangat kopi dan teh. Waduh… lagi-lagi, bung…. bingung mo pilih yang mana….

Wah, pokoknya lengkap dah, benar-benar perbaikan gizi terutama untuk para koster (maksudnya anak kost).

Beres makan kita tidur (setelah solat tentunya).

Beuuuh….. nyaman betul hidup ini yak, nonton tv, istirahat, makan gratis, trus tidur. Waduh… waduh….

Ok, kisah kita belum berakhir. Ini baru hari pertama, masih ada kisah-kisah seru dua bulan ke depan.

***

Posted in the journey to Borneo | 2 Comments

Belajar Kepemimpinan dari Rasulullah SAW

Muhammad SAW adalah manusian biasa dengan seluruh sifat kemanusiaannya. Sebagai manusia biasa, ia dilahirkan dengan ayah dan ibu yang jelas, bermain, belajar, bekerja, menikah, dan memiliki keturunan.

Beliau berjalan di pasar, membawa berang dagangannya, menyapu rumah, menjahit pakaiannya yang robek, memotong daging serta menyiapkan sayuran di dapur. Beliau juga merasakan apa yang dirasakan manusia pada umumnya seperti rasa harap dan cemas, miskin dan kaya, lapang dan susah, menyendiri dan bermasyarakat.

Sebagai seorang pemimpin, beliau berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah di hadapan hukum, memperoleh kemenangan dan kekuasaan, serta merasakah kekalahan dan kesedihan. Tubuhnya tidak terdiri dari besi tapi tilang dan daging biasa. Tulangnya pernah robek dan pelipisnya pernah terluka parah dan dua giginya tanggal terkena pukulan di Uhud.

Perbedaan satu-satunya beliau diamanati wahyu (plus mukjizat sebagai alat pembuktiannya) dan senantiasa dibimbing Allah jika melakukan satu tindakan atau pilihan yang tidak tepat. Selebihnya adalah manusia biasa… Rasul pilihan dan kekasil Allah.

Berbagai teori tentang kepemimpinan telah banyak dibahas di berbagai kalangan hanya saja yang menjadi permasalahan kini, adalah belum ada yang mewujudkannya secara keseluruhan dalam dunia nyata sedemikian sehingga dapat benar-benar kita tiru.

Meskipun demikian, kita tak semestinya risau, terutama sebgai seorang muslim sebab contoh teladan kepemimpinan itu memang ada dan kita miliki. Dialah Rasul yang mulia Muhammad SAW. Rasanya cukuplah beliau sebagai suri tauladan baik kita dari segala bidang termasuk kepemimpinan.

Salah satu teori kepemimpinan yang cukup dikenal masyarakat umum, adalah empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang dikembangkan Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yaitu sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering), dan panutan (model).

Kali ini kita akan membahas keempat fungsi kepemimpinan ini dengan menirunya dari Rasul SAW.

Fungsi perintis (pathfinding) mengungkapkan bagaimana upaaya sang pemimpin memahami dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder­-nya, misi dan nilai-nilai yang dianutnya, serta berkaitan dengan visi dan strategi, yaitu kemana perusahaan akan dibawa dan bagaimana caranya agar sampai ke sana.

Fungsi ini ditemukan di dalam diri Muhammad SAW karena beliau melakukan berbagai langkah dalam mengajak umat manusia ke jalan yang benar. Muhammad SAW telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilai-nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikukturalisme, rule of law, dan sebagainya. Sistem sosial yang diakui terlalu modern dibanding zamannya itu dirintis Muhammad SAW dan dikembangkan kemudian oleh para khalifah setelahnya.

Fungsi penyelaras (aligning) berkaitan dengan bagaiman pemimpin menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi perusahaan agar mampu bekerja dan saling sinergis untuk mencapai visi yang telah digariskan.

Muhammad SAW mampu menyelaraskan berbagai strategi untuk mencapai tujuannya dalam menyiarkan ajaran Islam dan membangun tatanan sosial yang baik dan modern. Ketika banyak sahabat yang menolak kesediaan beliau untuk melakukan perjanjian Hudaibiyah yang dipandang menguntungkan kaum musyrikin, beliau tetap bersikukuh dengan kesepakatan itu. Terbukti pada akhirnya perjanjian tersebut menguntungkan kaum muslim dan kaum musyrikin meminta agar perjanjian tersebut dibatalkan. Beliau juga dapat membangun sistem hukum dan pertahanan yang kuat, jalinan diplomasi dengan suku-suku dan kerajaan di sekitar Madinah sehingga hingga beliau wafat Madinah tumbuh menjadi negara baru yang cukup berpengaruh pada masa itu.

Fungsi pemberdayaan (empowering) berhubungan dengan upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkukan agar setiap orang dalam organisasi perusahaan mampu melakukan yang terbaik dan selalu memiliki komitmen yang kuat. Pemimpin harus mengerti sifat pekerjaan yang diembannya, memahami porsi pendelegasian tanggung jawab kepada kaeyawannya, mampu memahamkan alasan mereka bekerja, dan bagaimana mereka bekerja, serta mengetahui dukungan sumber daya yang diperlukan unuk menyelesaikan pekerjaan tersebut beserta akuntabilitasnya.

Beberapa contoh yang ada pada diri Muhammad, adalah kecakapan dalam mengatur strategi perang Uhud. Beliau menempatkan pasukan pemanah di punggung bukit untuk melindungi pasukan infanteri Muslim. Beliau juga dengan bijak mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar ketika mulai membangun Madinah. Beliau mengankat para pejabat atau hakim berdasarkan kompetensi dan good track record.

Fungsi panutan (modeling) mengungkapkan bagaimana agar pemimpn dapat menjadi panutan bagi para bawahannya. Bagaimana dia bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, dan keputusan yang diambilnya, serta sejauh mana ia melakukan apa yang ia katakan.

Sudah tentu Rasul SAW adalah panutan terbaik sepanjang masa. Bahkan Al Quran pun mengatakan bahwa beliau adalah teladan yang mulia. Tingkah lakunya adalah Al Quran. Salah satu contoh, adalah ketika beliau beserta kaum muslimin tengah mempersiapkan perang Khandaq melawan kaum musyrikin. Ketika itu, kaum muslim memakai strategi parit (khandaq). Parit itu digali mengelilingi kota Madinah. Pada saat itu bahkan Rasul pun tak segan untuk turut serta menggali parit tersebut beserta muslimin yang lain.

Sumber inspirasi : Muhammad SAW The Super Leader Super Manager, by Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec.

Posted in self development | Leave a comment

BRAIN GAIN, BRAIN DRAIN, DAN BRAIN CIRCULATION

India, pakistan, cina, mengajarkan pada kita tentang kepercayaan diri selaku bangsa dan negara dunia ketiga. India dan Cina berhasil mengubah kondisi brain drain menjadi brain gain di tengah kondisi brain circulation.

Brain drain, bermakna ilmuan-ilmuan terkemuka (outstanding) negeri sendiri dalam kondisi tersebar di seluruh penjuru bumi ini, terutama tersebar di negara-negara maju, seperti Amerika dan Eropa. Kondisi ini tentu saja sangat tidak diinginkan oleh negara yang bersangkutan karena SDM penting yang ia miliki justru memajukan negara lain, bukan negara asalnya.

Brain gain, bermakna meraih kekuatan ilmuan-ilmuan negeri sendiri yang tersebar di seluruh pelosok bumi dengan cara membangun jaringan yang menghubungkan mereka dan menyatukan pemahaman untuk membangun negeri sendiri. Brain gain policy diterapkan pemerintahan di India dan Cina sehingga efeknya bisa kita saksikan saat ini.

Selain atas dasar kesamaan asal negara, brain gain policy muncul atas dasar pertimbangan fenomena brain circulation yang terjadi di dunia saat ini. Brain circulation berarti sebuah kondisi yang menggambarkan ilmuan dari negara manapun, ras manapun akan mencari tempat di mana ia dapat melakukan penelitian dengan sangat baik. Menyadari hal tersebut, tentu saja dengan kebijakan brain gain, kedua negara di atas bukan hanya meminta orang-orang cerdas di negaranya untuk bersama membangun bangsanya tetapi juga mempersiapkan infrastruktur dan sokongan dana yang cukup untuk menunjang riset mereka.

Kebijakan seperti ini pun diikuti negara-negara lainnya, seperti Iran, Pakistan, Malaysia, dan Brazil.

Contoh kasus yang cukup populer tentang upaya peningkatan kemampuan ilmu dan teknologi suatu bangsa, adalah percakapan antara Presiden Pakistan, Pervez Musharaf dengan Prof. Dr. Atthaur Rahman (ilmuan Kimia terkemuka Pakistan) ketika diminta untuk menjadi menteri pendidikan dalam kabinetnya. Lantas Prof. Atthaur menjawab: “Are you serious on science, Mr. President?”. Musharaf, menjawab: “of course I’m serious!”. Prof. Atthaur kemudian melanjutkan: “if you are serious in science, then follow my policy!”. Presiden kaget mendengar hal tersebut, lantas meminta penjelasa kepada Prof. Atthaur. Ia menjelaskan: “first, government must increase higher education budget this year by 100%, then followed by 50 % every year to come until 5 years. Secondly, government must increase research expenditure by 6000%, and lastly government must pay Pakistani outstanding scientist fiur time higher than cabinet minister!. If you agree with my policy, I’m ready to be a minister!”. Presiden setuju dengan kebijakan ini. Sehingga setelah 5 tahun, kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan industri Pakistan sudah mendekati India.

Kisah ini memberi pelajaran pada kita sebagai berikut:

1. Seorang ilmuan semestinya tak hanya paham akan ilmu yang ia tekuni tetapi juga harus menyadari mengenai kondisi bangsanya sekalipun itu menyentuh dunia ekonomi dan politik karena ilmu yang dimilikinya sudah semestinya ia baktikan untuk bangsa dan negaranya.

2. Ketajaman visi, keluasan pengetahuan, dan kepercayaan diri menjadi modal penting untuk mewujudkan negara yang berdaulat seutuhnya, maju di segala bidang, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

3. Right man on the right place menjadi kunci penting dalam positioning SDM untuk memajukan bangsa dan negara.

Oleh karena itu, rasanya tak salah seandainya kita, Indonesia melakukan hal yang serupa seperti yang dilakukan negara-negara tersebut. Sehingga kita bisa menjadi negara yang benar-benar berdaulat dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi karya putera puteri negeri sendiri. Kita pun kelah akan bangga dengan bangsa kita sendiri dan dapat terlepas dari berpangku tangan ke negara-negara lain. Semoga kita bisa belajar lebih baik, untuk Indonesia yang lebih baik.

[rahadian]

Inspired by: M. Amien Rais. Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!

Posted in populer | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment