“Ospeknya” PTB

Chapter 8

Hari ini rencananya kami akan bertemu dengan pembimbing sementara kami, Pak Mardjoko untuk membicarakan jadwan orientasi kami (ospeknya PTB). Selama kami di sini memang nasib kami tidak jelas karena ketika kami datang, salah satu train (unit proses) mengalami trip (berhentinya proses) dan akar masalahnya ada pada bagian instrumen, tepatnya sistem ESD-nya (Emergency Shutdown System) sehingga orang-orang yang sedianya membimbing kami harus mendahulukan kepentingan pabrik.

 

Hari ini, Senin (satu minggu setelah kedatangan kami), seharusnya jadwal dan surat resmi mengenai orientasi kami telah selesai. Benar saja, suratnya sudah dibuat dan tinggal menunggu tanda tangan dari section head, Pak Deded.

 

Selain membicarakan tentang jadwal orientasi, kami juga membicarakan tentang pembagian kerjaan atau dengan kata lain pembagian tugas khusus. Pak Joko menawarkan dua topik, yaitu mengenai trip yang sedang terjadi (ESD) dan mengenai Gas Chromatograph. Materi ESD sedianya akan dibahas oleh dua orang dari kami karena jika dibahas sendiri terlalu banyak sedangkan jika dibahas bertiga terlalu boros SDM. Akhirnya setelah sedikit berunding, materi ESD akan menjadi kerjaan aku dan Maya sedangkan Ratno mendapat bagian di GC. Ok, pembagian kerjaan sudah semakin jelas, sekarang tinggal mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan tersebut.

 

Kami kembali mengunjungi instrument section. Ratno masuk ke bagian analyzer, tempat GC berada sedangkan aku dan Maya masuk ke bagian DCS untuk mempelajari ESD. Aku dan Maya langsung diajak terjun ke train yang sedang mengalami masalah (train H). Tanpa menunggu lama, mas Defta membimbing kami bertandang ke pabrik.

 

Bertandang ke train H

Perlahan dan penuh kebanggaan, kami memasuki kawasan jantung PTB ini. Langsung menuju train H. Tapi sebelum terjun lebih jauh, kami harus membuat surat izin dahulu. Oleh kerena itu kami masuk ke control room, tempat di mana semua kendali proses termonitor dan terkontrol. Seluruh proses kontrol di pabrik ini dapat dikendalikan dari tempat ini, oleh karena itu tempat ini dapat dikatakan juga sebagai otaknya sistem kontrol pabrik ini.

 

Selama ini aku hanya tahu bentuk control room dari gambar kartun ketika belajar Kontrol Otomatik, tapi sekarang aku menyaksikannya sendiri. Ck…ck… dahsyat benerr….

 

Dari CR ini kita dapat melihat proses yang sedang terjadi termasuk ketika ada masalah di lapangan. Bahkan jika masalahnya tidak terlalu rumit, dapat diselesaikan di tempat ini juga. Mas Defta menjelaskan proses yang sedang terjadi dengan bantuan tampilan diagram proses di layar monitor DCS. Benar-benar kita dapat melihat proses yang sedang terjadi. O, iya kebetulan saat itu salah satu train sedang ada masalah dan di monitor masalah itu juga muncul. Selain itu juga ada televisi yang menayangkan gambaran aktual kegiatan yang sedang terjadi di pabrik. Saat itu ternyata sedang terjadi kepulan asap yang hitam pekat entah berasal dari mana. Kemungkinan asap itu terjadi karena pembakaran yang tak sempurna.

 

Ok, setelah beres mengurus perizinan, kita siap mengunjungi box ESD di train H. Sambil berjalan menuju lokasi, mas Defta menjelaskan sedikit mengenai beberapa “benda asing” yang kami temui di sepanjang jalan. Sebenarnya bukan benda asing siy, aku yakin rekan-rekan di TF sudah cukup mengenal benda-benda tersebut. Ada exchanger, ESD valve, turbine, pipe line, dll.

 

Sampai di bix ESD train H. Ternyata isinya Cuma kotak-kotak ga jelas, tapi rasanya aku kenal ini kotak. Kotak mirip box DCS yang ada di lab Sisin tapi dengan ukuran yang lebih besar, sekitar 2 sampai tiga kalinya. Setelah aku tanya apa isi di dalam kotak tersebut, ternyata bukan hanya DCS tepi ada juga relay,  fire monitoring,dan sistem ESD. Kode kotak untuk instrumen adalah 52, artinya isntrumen berada di plant 52 di train H ini sedangkan kode untuk safety adalah 33 (plant 33). ESD masuk ke plant 33 sedangkan DCS berada di plant 52.

 

Beberapa kotak misterius itu kami buka, trenyata isinya adalah CPU, relay, kabel-kabel, dan DCS card. Kotak DCS di sini mirip dengan DCS yang ada di kantor mas Defta namun dengan card yang lebih sedikit (tentu saja hal ini tergantung pada berapa banyak elemen yang dikontrol). Masuk ke bagian ESD. Pada bagian ata skotak terdapat tulisan: “Industrial Control System ICS”). Sepertinya itu menunjukkan vondor yang membuat instrumen tersebut.

 

Setelah kami buka, mas Defta kaget karena dua lampu indikator intikator salah satu CPU di salah satu kotak ESD aktif. Lampu merah yang aktif ada pada bagian run, artinya sistem ini sudah tidak bekerja lagi dan jika satu lampu lagi aktif, maka alat ini benar-benar sudah tak bisa jalan.

 

Akhirnya dia manggil orang-orang yang terkait dengan permasalahan tersebut. Dalam sekejap, beberapa orang yang ga aku kenal sudah ada di lokasi lalu mereka membicarakan sesuatu yang aku ga mengerti, yang aku mengerti hanyalah bahwa salah satu bagian penting alat (ESD) tersebut harus diganti agar alat tersebut dapat berfungsi kembali.

 

Selama orang-orang itu mengurusi ESD, aku Cuma bengong ngeliatin, dengerin omongan mereka.

 

Sampe masuk waktu istirahat, masalah itu sepertinya belum selesai. Yo weiss.. aku dan Maya keluar train duluan.

 

Kembali ke seksi instrumen lalu menunggu jemputan untuk menuju apartemen.

 

Rencanany ESD ini akan menjadi topik tugas khusus. Padahal aku belum mengerti sama sekali tentang ESD ini. Tapi, ga masalah lah, selama masa orientasi ini topik tugas khusus kan masih ada kesempatan diganti jika dirasa tak layak dan tak mungkin diselesaikan dalam waktu yang telah disediakan.

 

Kolamnya pindah ke jalan

Selesai makan siang, kami kenbali menemui Pak Marjoko. Setelah mengunjungi train H dan mendengan sekelumit tentang permasalah ESD, ternyata Maya memutuskan untuk berpindah topik karena alasan tertentu. Kepindahannya membuat aku ditinggal sendiri menghadapi masalah  ini. Waaah… tantangan besar nih…

 

Hingga sore aku mencari bacaan yang berkaitan dengan ESD ini. Beberapa buku sepertinya berkaitan dengan topik ini namun bahasannya terlalu umum dan filosofis, bukan sesuatu yant teknis. Tapi ga apalah, lumayan untuk belajar.

 

Sore hari aku masih penasaran karena seahri sebelumnya ga jadi renang, jadi sore ini rencananya akan menuju tempat renang. Alhamdulillah, tempatnya sepi, cuma ada dua orang anak kecil. Sip, langsung siap nyebur.

 

Tapi, keadaan di Bontang ini memang sulit di duga, baru saja rencana ke tempat renang itu diputuskan karena cuaca saat itu sangat cerah bahkan panas, lah.. pas mo nyebur tiba-tiba hujan, langsung lebat pula. Weleh..weleh… ga jadi lagi donk.

 

Masalah belum selesai, bung. Sekarang kita terjebak di tempat ini dan ga bisa pulang karena hujan turun dengan derasnya. Jadilah kita nunggu sampe agak reda. Ya.. sepertinya bakal lama kalo nunggu sampe hujannya beres, jadi kita terobos aja. Akhirnya kita balik ke apartemen dengan menerjang hujan. Ga jadi renang di kolam, malah renang di jalan.

 

 

 

Advertisements
Posted in the journey to Borneo | Leave a comment

Ibnu Sutowo: Saatnya saya bercerita (sedikit ulasan)

seperti yang pernah saya dapatkan dari Dr. Yusuf Qardawi, bahwa ada 5 jenis ilmu yang wajib kita pelajari. pertama, adalah ilmu akidah. dalam bahasa lebih luas bisa kita katakan sebagai ilmu mengenai keyakinan atau ideologi yang dengannya kita bisa mengatakan “sesuatu” adalah benar atau salah. kedua, adalah ilmu bahasa. ketiga, adalah sejarah. selebihnya, adalah ilmu kemasyarakatan serta sains dan teknologi yang menjadi ujung tombak perkembangan zaman.

salah satu jalan kita mempelajari sejarah, adalah dengan membaca kisah seseorang yang hidup di masanya, biografi. buku ini (Ibnu Sutowo: Saatnya saya bicara) bukan sekadar biografi seorang Dr.h.c. Sutowo, tapi juga salah satu persimpangan sejarah republik ini yang mulai terlupakan.

salah satu alasan kenapa saya memburu buku ini, adalah karena adanya satu topik dalam buku tersebut yang bertajuk “yang disebut ‘krisis Pertamina'”. so, setelah membaca beberapa pendahuluan, perhatian saya langsung terbawa ke halaman 337 tempat tajuk tersebut berada.

Yang disebut “Krisis Pertamina”

1974. Pertamina masih di bawah pimpinan Ibnu Sutowo. perusahaan yang mulai menjadi remaja ini, sedang menggiatkan pembangunan di mana-mana. maka, tak salah jika saat itu berani mengambil pinjaman jangka panjang sebesar US$ 1.7 miliar dari salah satu bank di negeri opa Sam.

perjanjian kredit sudah disepakati dan siap diambil, namun perlu menunggu beberapa waktu (karena belum waktunya untuk diambil) dan mesti ada beberapa peraturan yang harus dipenuhi.

pada masa penantian kucuran pinjaman, Pertamina  sudah memulai beberapa proyek besar, seperti Krakatau Steel dan Otorita Batam. lantas  Pertamina melakukan pinjaman jangka pendek (shirt term loan)  pinjaman jangka panjang yang belum keluar.

belum rampung proyek yang dijalankan, tersiar kabar bahwa pinjaman jangka panjang (yang telah disepakati) tidak bisa dicairkan. titik awal krisi dimulai di sini.

tak bisa dipahami mengapa pinjaman tersebut tidak bisa cair. “siapa yang menghalangi? siapa yang menjegal? apa sebabnya?”.

1973. krisis energi terjadi di negara-negara industri barat, dimulai di Amerika dan meluas ke Eropa hingga Indonesia. sedangkan di belahan dunia lain terjadi gejolak (perang) Arab-Israel (6 Oktober 1973). seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika (AS) berpihak pada Israel. maka, Mesir dan negara-negara Arab lainnya menggunakan minyak sebagai senjata. embargo minyak melanda AS dan Eropa Barat. pada sisi lain, OPEC gagal menyepakati harga minyak yang baru dengan maskapai minyak internasional.

ketika itu, harga minyak melonjak 4 kali lipat.

kembali ke Indonesia. pada masa itu, pembangunan tengah giat terjadi. Pertamina tak hanya berperan sebagai unit ekonomi, tetapi juga sebagai government agency, penyalur tunggal bahan minyak dan pupuk, serta tulang punggung penunjang pelaksanaan Pelita.

“bangunlah sesuatu, supaya ada sesuatu yang dikontrol. sementara orang lebih memberikan tekanan pada kontrol dan kurang pada usaha pembangunan negeri ini. apa yang akan dikontrol kalau tak ada orang yang membangun sesuatu?”.

maka di bawah restu pemerintah, geliat pembangunan itu terus berlangsung.

1972. dewan komisaris dibentuk untuk Pertamina. terjadi ketidakcocokan antara dewan komisaris (yang terdiri atas beberapa menteri sekaligus golongan teknokrat) dengan pemegang eksekutif Pertamina.

ketika itu, Bank Dunia (WB) berbeeda pendapat tentang pembangunan proyek pupuk terapung di Attaka, Kalimantan Timur. menurut WB, Indonesia jangan membuat pabrik pupuk baru karena WB memperkirakan akan timbul over produksi.

“sementara itu saya (Ibnu Sutowo)-dan juga Presiden Soeharto- yakin bahwa Indonesia akan mampu menyerap 2-2.5 juta ton pupuk/thn. sedangkan kapasitas pabrik pupuk ketika itu masih di bawah kebutuhan”.

pembangunan pun terus berlangsung (tanpa bantuan WB).

apa yang terjadi kemudian?

pada 1973 terjadi gejala kekurangan pupuk sedunia, untunglah Indonesia selamat (berkat pembangunan pabrik pupuk tersebut).

“saya tahu, para teknokrat itu ada hubungan dengan bank dunia, dengan Dana Moneter Internasional, dengan IGGI. dan di belakang Bank Dunia dan sebagiannya itu ada perusahaan-perusahaan minyak raksasa. harap maklum bagaimana pengalaman saya menghadapi perusahaan raksasa itu. harap maklum, usaha saya mulai dari menghilangkan konsesi-konsesi itu sampai meletakkan Kontrak Bagi Hasil (yang mengurangi keuntungan perusahaan minyak raksasa).”

kemudian, 1974 terjadi penyetopan rencana pinjaman jangka panjang US$ 1.7 miliar dari bank di Amerika. padahal Pertamina sudah melakukan pinjaman jangka pendek dari Bank di Timur Tengah untuk melakukan pembangunan (di antaranya Krakatau Steel). utang jangka pendek berarti harus segera dibayar. maka, jelas Pertamina mengalami kesulitan keuangan.

Pertamina belum sempat menyetorkan uang minyak Caltex ke kas negara sebesar US$ 200 juta. kemudian, secara ramai-ramai bank-bank pemberi pinjaman melakukan penagihan utang jangka pendek. mereka enggan mengulur waktu pembayaran dengan alasan kekurangan uang akibat kelesuan ekonomi dunia.

Pertamina benar-benar mengalami kesulitan keuangan. Krisis Pertamina.

“terus terang waktu itu saya teledor”.

“saya kemudian menjadi bingung, kok pinjaman itu terus hilang begitu saja. mengenai siapa yang menjanjikan pinjaman itu, dikatakan bahwa pinjaman itu memang datang dari Timur Tengah, bukan dari konsorsium. tetapi ditawarkan melakui surat dari sebuah bank di London.”

entah apa penyebab sebenarnya sehingga permasalahan keuangan itu muncul. apakah ada yang khawatir jika negeri ini berkembang, atau ada sebab lain?

masih banyak kisah yang bisa digali, dari seorang Ibnu Sutowo yang memulai karir sebagai seorang dokter. masuk angkatan bersenjata dan terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan. mendapat amanah sebagai “dokter minyak” untuk mengobati permasalahan perminyakan Indonesia. menutup karir sebagai pengabdi di PMI dan Badan Pengambangan Wallacea.

-baca selengkapnya… 😀 –

Posted in all about oil and gas, populer | 2 Comments

Beli Minyak atau Kacang Goreng?*

beli minyak atau kacang goreng* ?

beberapa pekan terakhir ini tengah berkembang isu kurang sedap mengenai susu bayi karena ada masalah dengan unsur atau komponen yang dikandungnya. reaksi masyarakat begitu tinggi karena kandungan suatu produk bukanlah sesuatu yang sepele melainkan jaminan kualitas produk itu sendiri.

 

lantas, apakah kandungan yang dipermasalahkan itu merupakan komponen yang memiliki pengaruh signifikan bagi produk dan konsumen? ya, ga perlu dujawab di sini karena yg bakal dibahas sekarang bukan tentang minuman bervitamin untuk manusia (susu) melainkan “minuman bervitamin” untuk kendaraan, alias minyak atau bahan bakar minyak a.k.a. produk BBM.

 

sepertihalnya ketika kita membeli produk makanan, maka salah satu komponen penting yang perlu kita pertimbangkan, adalah seberapa besar kandungan makanan tersebut memenuhi kebutuhan aktivitas tubuh kita. apakah bisa memberikan energi yg cukup untuk jalan kaki, lari, atau cuma bikin seneng lidah ?

terlebih lagi jika kita ingin membeli satu makhluk bernama BBM. satu hal unik tentang BBM, adalah BBM merupakan barang energi, bukan barang komoditi biasa.

 

kendaraan kita menikmati kandungan energi yang dimiliki BBM, terlepas seberapa banyak timbangan atau volumen BBM tersebut karena jumlah volume yang sama (untuk beberapa jenis BBM) bisa memberikan nilai energi yang berbeda.

saya coba cuplik sebagian data salah satu kuliah tentang distribusi minyak. BBM yang ditampilkan merupakan jenis yang sama, namun berasal dari beberapa produsen.

 

data 1 menunjukkan nilai Rp/liter untuk 5 jenis BBM pada tahun 2009-2010.

BBM A : 5,695.90 (2009) dan 6,503.00 (2010)

BBM B : 5,510.00 (2009) dan 6,100.00 (2010)

BBM C : 5,258.80 (2009) dan 5,650.00 (2010)

BBM D : 5,367.50 (2009) dan 5,790.00 (2010)

BBM E : 5,264.15 (2009) dan 5,650.00 (2010)

 

berdasarkan harga, terlihat bahwa BBM C dan E tergolong paling murah dan berdasarkan motif ekonomi (memilih pengorbanan yang terkecil) tentu akan memilih produk yg memliki cost terendah untuk produk dengan fungsi yang sama.

karena BBM adalah barang energi, maka akan kurang afdol klo tidak menampilkan kandungan energi masing-masing BBM.

data 2 menunjukkan kandungan energi (Mjoule) perliter.

BBM A : 37.87 MJ/l

BBM B : 32.1

BBM C : 32.18

BBM D : 33.64

BBM E : 31.94

 

lagi-lagi berdasarkan prinsip ekonomi (memperoleh keuntungan terbesar) tentu akan memilih BBM A atau D karena memberikan energi lebih besar untuk setiap liternya.

 

tentu hasilnya akan lebih elok jika produk yang kita pilih berdasarkan data 1 sama dengan produk yang kita pilih di data 2.

makan, sekarang kita gabungkan data harga produk berdasarkan kandungan energi yang dimilikinya, Rp/MJ.

BBM A : Rp 171.72/ MJ (harga pasar Rp 6,503.00/l)

BBM B : 190.03 (Rp 6,100/l)

BBM C : 175.60 (Rp 5,650/l)

BBM D : 172.11 (Rp 5,790/l)B

BM E : 176.87 (Rp 5,650/l)

sebagain contoh BBM C, artinya kita membayar sekitar Rp 175.6 untuk setiap paket energi (1 MJ) yang kita pakai.

 

sayang pertama

 

sayangnya, harga yang tertera di pasar bukanlah harga rupiah perenergi (Rp/MJ) melainkan rupiah perliter (seperti yang kita lihat di SPBU). padahal jika kita memilihi BBM B (harga termurah perliter) sebenarnya kita membeli BBM termahal (perenergi). sehingga untuk memperoleh jumlah energi yang diperlukan, kita harus mengeluarkan rupiah lebih banyak lagi.

akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan menjadi masalah seandainya kita sebagai konsumen sudah mengenal produk yang kita gunakan.

so, just know “me” so well before you buy “me”.

 

sayang kedua

 

hal kedua yang disayangkan, adalah ternyata nilai energi perliter tidak dijadikan sebagai salah satu syarat spesifikasi produk BBM.

 

seperti yang kita ketahui, bahwa BBM memiliki parameter-parameter standar yang dipersyaratkan oleh badan terkait (misal, kementerian ESDM di Indonesia). parameter yang menjadi syarat, di antaranya nilai oktan, kadar sulfur, kadar timbal, warna, pour point, kandungan material, densitas, dan flash point.

 

bahkan, dari semua parameter tersebut, yang paling sering muncul, adalah nilai oktan dan kadar sulfur. sebagai informasi, semua BBM yang dijadikan sampel di atas sudah memenuhi syarat layak BBM di Indonesia. dengan kondisi ini, sang produsen bisa saja mempermainkan nilai energi dengan hiasan nilai oktan, kadar sulfur, dan parameter-parameter lainnya.

 

saya sempat menanyakan apakah tidak ada badan dunia yang menyertakan kandungan energi perliter sebagai salah satu syarat layak sebuah BBM. jawabannya, tidak ada (atau mungkin saya dan orang yang saya tanyakan memang belum tahu).

kenapa hal ini menjadi penting? tentu saja, dengan nilai energi/liter yang besar maka konsumsi energi akan lebih rendah a.k.a. lebih hemat energi dari sisi jumlah.

 

saya pun heran, kenapa belum ada badan yang memberlakukan hal ini, padahal isu mengenai green energy dan hemat energi tidak pernah tergantikan di setiap harian atau surat kabar di seluruh dunia. mudah-mudahan keheranan saya ini karena ketidaktahuan dan diberi kesempatan untuk mencari tahu lebih lanjut dan tentu saja memberitahu pada yg belum tahu, serta mengingatkan pada yang lupa.

 

urusan dengan BBM memang agak rumit karena menyangkut hajat hidup orang banyak. BBM tidak hanya urusan jual beli barang, melainkan juga urusan ekonomi masal, sosial bahkan hingga urusan politik. -mungkin ini juga yang menyebabkan VOC datang ke Indonesia era dahulu (dan mungkin juga sekarang, dengan perusahaan yang sama).

 

saya tersadarkan tentang pentingnya benar-benar mengenal produk yg kita gunakan. jangan sampai “membeli minyak dalam karung”, hanya melihat harga dan sebagian kandungannya.

 

so, membeli BBM memang tidak seperti membeli kacang goreng yang tinggal ditimbang atau diserok atau dirawu (bahasa sunda), ditimbang dan dibungkus. tetapi lebih dari itu, karena BBM adalah barang energi.

 

*) tidak bermaksud merendahkan kacang goreng, hanya sebagai penyedap judul saja.

 

Posted in all about oil and gas | Leave a comment

welcome back

blog ini saya buat sekita 2 tahun lalu. saya membuat blog ini setelah membuat catatan harian selama Kerja Praktik (KP) di Bontang, Kaltim. sebagian catatan hariannya sudah saya posting di sini, sebagian (besar) lainnya masih tersimpan rapi di hardisk..

sudah 2 tahun tak dijamah, akhirnya blog ini akan diaktifkan lagi … 😀

berawal dari ketidaksengajaan ketika ngobrol santai dengan rekan kerja beberapa hari lalu. rekan saya bertanya tentang bagaimana agar bisa betah membaca buku. saya katakan bahwa, membaca buku bukan sekadar hobi tapi kebutuhan. ketika kita mulai jenuh membaca, maka cobalah menuliskan apa yang  kita baca.

sampai akhirnya dia bertanya, “.. suka blogging?”

saya jawab, “ga, belum sampai tahap blogging..” (seketika pikiran saya menerawang ke blog yang pernah saya buat entah kapan..).

dan hari ini, saya cek status blog saya. ternyata masih ada.. 😀

so, lets inspire the world…

Posted in semangat pagi ! | Leave a comment

Syarat Kemenangan di dalam Islam

kemenangan dalam pandangan Islam bukan sebatas pada tercapainya suatu tujuan, tetapi juga pada
keberadaan ridha Allah dalam kemenangan tersebut.

setidaknya ada lima hal yang menjadi pertimbangan sehingga kita dapat meraih kemenangan dari Allah swt.

1. nilai

hal mendasar yang menjadi syarat sehingga Allah swt memberikan kemenangan, adalah terpenuhinya nilai-nilai yang
menjadikan kita layak mendapat kemenangan. nilai-nilai yang dimaksud terdapat dalam kitipan ayat Q.S. Al Hajj:40-41.
kutipan aya tersebut menyebutkan bahwa kemenangan akan diperoleh ketika 4 nilai telah terpenuhi,
yaitu solat, zakat, menegakkan kebenaran, dan mencegah kemunkaran.

2. konsep

setelah terpenuhinya nilai-nilai kemenangan, maka hal selanjutnya adalah konsep yang kita bawa selama mengusahakan kemenangan.
konsep seperti apa yang layak mendapatkan kemenangan dari Allah swt?
untuk itu, kita perlu merujuk pada Q.S. 12:108.
konsep yang layak mendapat kemenangan, adalah konsep yang tidak bertentangan dengan syariat Allah swt termasuk sunnah Rasul saw.

konsep syariat Islam yang telah dicontohkan suri tauladan kita semua Rasul saw. maka, dengan yakin kita katakan bahwa “..ini jalanku,
aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak engkau kepada Allah dengan yakin, maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang yang musyrik”.

3. sistem

konsep yang baik tentu tidak akan memiliki daya guna tanpa adanya sebuah sistem yang menjalankan konsep tersebut. maka perlu ada sebuah
sistem yang dapat menjalankan konsep tersebut, sistem yang membuat kita layak mendapat kemenangan dari Allah swt.

sistem seperti apa yang dimaksud?
Allah swt mengajari kita lewat petikan ayat-Nya di dalam Q.S. Ali Imran. “Dan hendaklah ada di antara kamu sebagian golongan yang menyeru
kepada kebaikan, menyuruh berbuat yang baik, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

petikan ayat tersebut mengajarkan kita sebuah sistem yang di dalamnya terdapat orang-orang yang senantiasa menyeru di jalan Allah, sistem
yang senantiasa menjalankan proses pembinaan tiada henti, sistem yang tidak hanya menjadikan seseorang soleh tapi juga menjadikan seseorang
dapat mensolehkan orang lain.

sistem itulah yang kita kenal dengan tarbiyah.
sistem yang Rasul dan sahabat terapkan dan bahkan Allah swt terapkan ketika membina Rasul saw. sistem ini telah membuktikan kejayaan Islam
dapat diraih, maka dengan sistem ini pula kejayaan Islam akan kita raih, insya Allah.

4. jamaah
sistem hanyalah sebuah perangkat dalam menjalankan sebuha tujuan. sistem dengan segala kelibihannya tak akan berjalan tanpa ada sumber daya
di dalamnya, terutama sumber daya manusia, dan terutama lagi manusia-manusia terbaik. saya katakan “manusia-manusia terbaik” karena memang
sistem ini bukanlah untuk dijalankan oleh seorang manusia saja tetapi seperti kutipan ayat di Ali Imran tadi bahwa yang menjalankan ini
haruslah segolongan orang, komunitas, jamaah.

maka jamaah seperti apa yang layak mendapatkan kemenangan dari Allah swt?
ialah jamaah yang memiliki kekuatan individu. individu yang memiliki kekuatan akidah dan menerapkan nilai-nilai seperti pada poin pertama.
lalu jamaah yang memiliki ukhuwah yang solid, saling percaya dan menghargai saudaranya.
jamaah yang memiliki kekuatan amal, yaitu jamaah yang senantiasa berbuat kebaikan.

5. tujuan
poin terakhir yang menjadikan kita layak mendapat kemenangan adalah adanya tujuan. tujuan seperti apa?
rodho Allah swt. itulah sebaik-baik tujuan. maka, pada setiap langkah kita bergerak tak ada tujuan paling tinggi yang hendak dicapai
selain harapan yang besar kepada Allah swt.
sebagai penutup, cukuplah perintah Allah, “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”. Q.S. Al Insyirah : 8.

inspired by ust. Suherman

Posted in self development | Leave a comment

Chapter 6 : Sabtu Pertama

Sabtu pertama di kota Bontang. Memulai hari dengan agenda yang tak jelas. Rencana lari pagi harus gagal karena bangun kesiangan. Sarapan pagi seperti biasan, namun kali ini kami tak perlu buru-buru karena tak ada shuttle yang menunggu. Yup, hari ini hari libur bekerja.

Hari mulai siang, tiba-tiba Maya datang dan mengajak pergi ke luar, keliling PTB. Mmm… aku pikir-pikir daripada diam di kamar ga jelas mungkin ada baiknya juga pergi ke luar. Aku ajak Ratno dan rekan yang lain. Belum jelas juga apakah mereka mau ikut atau tidak. Waduh… kalo Cuma berdua bahaya juga. Mm… ternyata ada penolong juga. Diki (kawan dari Yogya) tiba-tiba SMS.  Inti isi pesannya adalah ia menawarkan diri untuk mengantar kami jika kami ingin berkeliling Bontang. Wah .. tepat banget, langsung aja ikit bareng dia pake mobil yang ia bawa (pinjaman).

Akhirnya kami keluar. Sedikit berkeliling melihat keadaan kota Bontang di luar kawasan PTB. Mm… ternyata sepi, sepi sekali. Padahal hari ini kan hari Sabtu. Setelah berjalan lebih jauh, baru terlihat sedikit keramaian. Kami berkendara hingga mendekati kampung nelayan (lupa namanya). Tapi ga masuk, mungkin lain kali. Setelah lama berkeliling, akhirnya kita putuskan untuk berhenti di Ramayana, satu-satunya departement store yang ada di kota Badak ini. Keadaan tak jauh berbeda, di tempat ini juga tak terlihat keramaian yang mencolok. Masuk ke Ramayana, kami membeli beberapa makanan untuk sekadar cemilan di kamar. Setelah itu kembali ke mobil untuk menunggu teman-teman lain yang belum datang.

Tak lama kemudian, kami semua sudah berkumpul. Ada satu mobil sedan dan dua sepeda motor cukup untuk membawa kami semua bepergian.

Ok, kita putuskan untuk pergi ke daerah PKT (Pupuk Kaltim). Sampai di salah satu hotel di kawasan PKT. Aku coba menghubungi Suharman dan Adit, aku berpikir siapa tahu mereka menginap di hotel ini. Ternyata benar, mereka menginap di hotel ini. setelah mencari beberapa lama, akhirnya kami bertemu. Wah… pertemuan yang tidak direncanakan.

Setelah berbicara sebentar sambil mengambil beberapa foto, kami sepakat untuk kembali ke apartemen  karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Ok, kita kembali ke apartemen. Kami yang menggunakan mobil, berada di belakang mereka yang mengguankan motor.

Setelah masuk daerah PTB, Diki mengajak kami berkeliling sebentar untuk memberi tahu tempat tinggalnya agar suatu saat mudah menghubungi jika diperlukan. Setelah itu kami langsung kembali ke apartemen.

Rencananya sore ini kami akan bermain sepak bola di lapangan kecil dekat apartemen di belakang gedung putih.

Setelah makan siang rasanya ada waktu untuk istirahat sebentar sebelum sepak bola.
Sip, sudah cukup sore, saat yang bagus untuk mencari lawan ke lapang bola. Sampai di lokasi, ternyata tak ada yang bermain bola, lapangan sepi. Akhirnya Luqman dan Adhi mencoba mencari lawan. Setelah menunggu beberapa lama,a akhirnya muncul beberapa anak lokal, sepertinya mereka usia SMA. Kami menawarkan untuk bermain bersama dan ternyata mereka tidak keberatan.

Ok, pertandingan dimulai. Eits, tunggu dulu, kalo ingin main di lapang tersebut, kita tidak dianjurkan memakai sepatu karena tempatnua yang berlumpur di beberapa bagian. Yo weis…. kita nyeker.

Ga kerasa maen bola ampe deket waktu Maghrib, lagian udah capek juga. Sip, cukukp untuk hari ini, besok-besok kita main lagi.

Beres maen bola, pakaian kotor banget, lumpur di mana-mana, dari kaki, celana, sampe muka juga sempet kecipratan lumpur. Klo kita yang nyuci sendiri agak ribet juga, tapi ada fasilitas laundri di apartemen jadi bisa dimanfaatkna. Ops, sayangnya harus menunggu hari Senin karena laundri cuma aktif 6 hari (Senin-Sabtu) jadi terpaksa baju kotor itu digantung dulu di kamar mandi, lumayan buat ngeringin lumpur.

Huh… abis maen bola enaknya makan terus tidur. Rencananya malam ini kita mo pergi ke luar PTB tapi kami lebih memilih beristirahat karena besoknya kami punya janji pertandingan futsal melawan para engineer PTB, so harus jaga kondisi donk.

Ok, see u tomorrow.

Posted in the journey to Borneo | 2 Comments

SISTEM PENGAMANAN INDUSTRI PROSES

Teknologi instrumentasi tak hanya mengangani permasalahan sistem proses, namun pada saat ini teknologi instrumentasi juga berperan penting dalam sistem pengamanan (safety).
Sistem instrumentasi yang khusus menangani hal ini biasa dinamakan SIS (Safety Instrumented System). SIS dirancang terpisah dari sistem yang mengontrol suatu proses (BPCS/Basic Process Control System), meskipun demikian, hal ini baru sebatas anjuran (bukan merupakan sebuah kode industri).
Alasan pemisahan kedua sistem ini, adalah untuk mengatasi kegagalan SIS ketika BPCS bermasalah. Misalnya, saat BPCS mengalami error dalam sistem sehingga tak berfungsi dengan baik, maka SIS akan ikut terganggu jika sistem ini tegabung dengan BPCS. Padalah peran SIS sangat vital dalam mencegah bencana yang akan terjadi saat proses mencapai titik bahaya.
Secara umum, sistem pengamanan proses terbagi menjadi beberapa tahap (safety layers) dengan SIS merupakan salah satu dari layers tersebut.
Tahap pengamanan pertama, adalah BPCS itu sendiri. BPCS diberi kemampuan untuk menjaga agar kondisi proses tetap berada di daerah aman, yaitu di daerah process set point. Ketika kondisi ini terlampaui, maka sistem alarm akan aktif. Kondisi ini biasa dinamakan high condotion. Sistem alarm ada yang tergabung dengan BPCS dan ada pula yang independen terhadap BPCS.
Ketika BPCS tak mampu mengatasi permasalahan ini (kondisi bahaya proses terus meningkat), maka sistem pengaman selanjutnya akan aktif.
Sistem pengamanan kedua, adalah Emergency Shut Down System (ESD System). Sistem ini memiliki kemampuan memberhentikan proses meskipun sedang dikendalikan BPCS. Tugas sistem ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu ketika kondisi mencapai tingkat HH (high high), maka sistem ESD akan menginterupsi BPCS dan menghentikan proses yang sedang berjalan. ESD inilah yang dinamakan SIS. Oleh karena itu, ESD berdiri secara independen terhadap BPCS.
Jika sistem ESD tak mempu menanggulangi permasalahan, maka layer ketiga akan berperan. Layer ketiga, adalah pengamanan secara mekanik, yaitu melalui PSV (Pressure Safety Valve). PSV, adalah valve yang dirancang khusus untuk sistem pengamanan proses. PSV berperan sebagai instrumen yang dapat mengurangi tekanan ketika proses berada dalam kondisi bahaya. Karean jika tekanan di dalam proses tidak direduksi maka akan berpotensi terjadi ledakan. Metode reduksi tekanan dilakukan dengan jalan mengeluarkan udara yang berada di dalam vesel atau pun yang berada di sepanjang pipa saluran proses.
Jika PSV tak cukup untuk mencegah terjadinya bahaya (ledakan), maka ledakan dipastikan akan terjadi. Meskipun demikian, sistem pengamanan tak berhenti sampai di sana. Untuk mencegah dampak yang lebih buruk, maka indusri biasanya melengkapi process plant dengan selubung (dinding) yang cukup kuat agar ledakannya yang mungkin akan terjadi tidak menimbulkan dampak buruk yang lebih luas. Dinding ini berperan untuk melokalisasi kondisi bahaya.
Begitulah sistem pengamanan di industri secara umum. Pada intinya perlindungan dapat dibagai, yaitu perlindungan secara instrumentasi dan perlindungan secara mekanik.

Posted in populer | Leave a comment

Chapter #5 : Bored Virus, Analyzer, Train

acd-wallpaper1

Train PTB

Bored-virus suspect
Memasuki hari kelima di Bontang atau hari keempat menjelajahi PTB. Berkaca pada masalah yang sedang terjadi di pabrik, sepertinya hari ini tidak akan jauh berbeda dengan hari kemarin. Mas Defta pasti masih sibuk membereskan masalah yang sedang terjadi pun jua dengan para pegawai di instrument section. Namun demikian kami tetap harus keluar mencari sesuap ilmu meskipun terlihat akan membosankan.

Pagi hari seperti biasanya kami berangkat dari apartemen menuju lokasi. Kali ini tujuan kami langsung ke perpustakaan instrumen. Sejak pagi kami di sana (with highly-highly bored…), seperti orang rajin (keliatannya doang…) padahal dalam hatiku sudah ingin berontak, ingin rasanya berkeliling kesana-kemari. Tak ada yang mengawali untuk mengambil inisiatif keluar dari kondisi ini sampai akhirnya aku coba memberanikan diri. Sebagai permulaan, aku coba bertanya perihal satu bagian dari perpustakaan ini yang sejak awal kami datang selalu dikunci. Aku bertanya pada Pak Agus apakah bagian tersebut bisa kami manfaatkan. Mm… ternyata mudah saja, tinggal dibuka maka isi lemari tersebut bisa kami baca. Yup, sesuai dugaanku bahwa di bagian ini tredapat buku yang lebih “bersahabat” untuk dibaca dibandingkan dengan bacaan yang selama ini kami temui yang sebagian isinya adalah data-data pabrik, gambar teknik, dokumntasi, dan data produk.

Ada beberapa buku yang menarik perhatianku, seperti buku tentang kontrol, kromatografi, PLC, DCS, dll. Buku-buku yang sepertinya tak asing di telinga.

Aku ambil beberapa, tentang kromatografi dan kontrol industri. Baca-baca sebentar lalu kebosanan itu kembali menghantui. Masuk dari pori-pori kulit lalu memasukki pembuluh darah hingga bercampur dengan sel-sel darah dan seketika itu juga sudah menguasai seluruh bagian tubuh termasuk pikiran. Virus kebosanan itu masuk secara perlahan ke dalam tubuh namun setelah berada di dalam, begitu cepatnya virus tersebut mengambil alih kendali tubuh ini.

Still in condition of  bored-virus suspect. Tak lama kemudian datanglah seorang yang sepertinya telah aku kenal, ow… ternyata Pak Iwan, salah satu pegawai di seksi ini, yang berasala dari Kiara Condong. Bincang-bincang cukup panjang dengan beliau tentang berbagai hal. Hingga akhirnya beliau menawarkan diri untuk menjelaskan tentang instrument analyzer karena ternyata sebelum menjadi asisten sipervisor beliau pernah cukup lama di bagian analyzer. Wah… kesempatan nih.. daripada duduk-duduk ga jelas, bolak-balik ambil bacaan terus dikembaliin terus diambil lagi. Kalo cuma studi literatur mah di tempat kuliah juga bisa, coy.

Setelah urusan Pak Iwan selesai, aku memberanikan diri menemui beliau di ruangannya lalu menanyakan perihal penawarannya tadi. Tak banyak bicara lagi aku ajak teman yang lainnya sedangkan Pak Iwan mempersiapkan presentasinya. Satu jam lebih kami berdiskusi tentang alat ini. Beliau menjelaskan secara garis besar sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami.

Instrument analyzer
Berawal dari filosofi instrumen, yang menyatakan bahwa ada empat fungsi dasar keberadaan sebuah instrumen, yaitu sebagai alat pengamanan, alat ukur, alat kontrol, dan alat analisis. Fungsi pertama adalah yang paling penting. Bukan bagian ini yang akan dikelaskan, melainkan bagian alat analisis.

Instrument analyzer berperan dalam menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Selidik punya selidik, ternyata LNG yang berasal dari PTB merupakan yang terbaik di antara LNG yang dihasilkan dari perusahaan lain. Untuk itu, peran instrumen ini begitu penting.

Pada dasarnya, prinsip isntrumen ini adalah membandingkan sampel uji dengan komponen standar yang telah ditentukan. Sampel uji masuk lewat salah satu bagian yang dinamakan kolom. Pada bagian ini sampel akan terpisah berdasarkan komponen penyusunnya. Setelah terpisah, tiap komponen akan dibandingkan dengan komponen standar setelah itu akan diperoleh susunan atau komposisi sampel uji. Hasil yang diperoleh manjadi acuan untuk menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Ketika komposisinya ternyata tidak sesuai dengan ketentuan, maka produk akan dibuang dan proses kembali ke awal.

Pemakaian instrument analyzer ada dua macam, yaitu metode offline dan online. Metode online, artinya instrumen mangukur sampel gas secara langsung di lapangan. Proses pengukuran berlangsung cepat namun hasil yang diperoleh kurang spesifik karena hasilnya hanya berupa perhitungan kasar. Metode kedua adalah offline, yaitu mengukur sampel di laboratorium. Para petugas lab mengambil sampel secara menual pada periode tertentu untuk dilakukan pengukuran secara lebih detil. Periode pengambilan sampel tentu saja lebih lama daripada metode online namun hasil pengukurannya lebih akurat.

Ketika terdeteksi bahwa sample tidak sesuai dengan ketentuan, maka hasil pengukuran instrumen inline akan dibandingkan dengan hasil uji instrumen offline untuk mendapatkan kepastian. Setelah diperpleh hasil dari keduanya, maka langkah selanjutnya bisa dilakukan (proses diulang atau tetap dilanjutkan).

Beberapa komponen yang biasa dianalisis, adalah karbon dioksida, amonia, butana, metana, propana, dan air. Setiap kompenen dianalisis dengan instrumen yang berbeda sesuai dengan fungsinya.

Waduh… gak kerasa sudah pukul 11 lewat. Petugas shuttle sudah menjemput, rekan-rekan PKL yang lain sudah menunggu di shuttle. Ok, terima kasih Pak sudah menjadi solusi di kala kebosanan melanda, menjadi pelepas dahaga di tengah  kekeringan aktivitas, menjadi cahaya lilin di tengah  kegelapan ilmu, menjadi sinar mentari di tengah mendung harapan, menjadi Laplace di tengah kebingungan formula matematis, menjadi Einstein di tengah putusnya hubungan massa dan energi, menjadi MatLab di tengah kerumitan analitis, menjadi Schrodinger yang membuka tabir Fisika kuantum, menjadi Maxwell yang menjawab permasalahan medan listrik dan magnet, yaa… pokoknya terima kasih sudah mau berbagi ilmu dan mulai membuka cakrawala kami mengenai instrumen. Semoga tak bosan untuk berbagi ilmu kembali.

Mm… masih ada waktu untuk makan siang. Solat Jumat di masjid utama PTB, Al Kautsar. Subhanallah…… besar banget, bersih pula, rapi, tertib. Masuk ke ruang utama, bertambah lagi kekagumanku. Karpetnya bo, tebel banget, abis capek berkegiatan terus duduk di karpetnya, set…. labgsung switch to sleep mode. Nyamaa…n.

Reup… beunta…reup… beunta (bahasa sunda untuk tidur… bangun…tidur…bangun..), ga keresa khutbah Jumat udah mo beres. Langsung solat terus kembali ke apartemen.

13.30 shuttle sudah nongkrong di depan apartemen, siap mengantar kami ke kantor, hehe.. sekarang udah punya kantor.

Berkunjung ke train
Kami bertiga menuju instrumen (lagi-lagi). Tapi kali ini bukan untuk ke perpustakaan untuk studi literatur melainkan manuju ruang analzer untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang instrument analyzer. Kami bertemu dengan Pak Budi dan Pak Soetris. Kali ini yang menjelaskan adalah Pak Budi Miharja. Aku katakan bahwa Pak Iwan sudah memberikan pendahuluan tentang analyzer (maksudku supaya beliau tahu status pengetahuan kami).

Pak Budi menjelaskan cukup detil tentang alat ini bahkan beliau mengajak kami melihat langsung online analyzer yang berada di train. Wuih….. ide bagus tuh… akhirnya ada kesempatan juga masuk ke train.

Setelah mempersiapkan semua safety aquipment, kami langsung berangkat menuju train. Cukup dengan berjalan kaki, dengan langkah pasti dan penuh kebanggaan disertai rasa penasaran yang tak terbendung. Dekat…dekat…. semakin dekat. Melewati sistem keamanan yang ketat. Akhirnya aku melihat untuk pertama kalinya jantung proses yang terjadi di PT Badak ini. Wuih…. rasa kaagum yang tak bisa ditutup-tutupi. Mirip wong deso yang baru masuk kota. Celingak-celinguk sana-sini. Padalah di sekeliling hanya ada pipa-pipa baja, cerobong uap, dan ruang kontrol tapi entah mengapa virus kekaguman ini terasa menguasai seluruh aliran darah, masuk ke setiap jaringan dan menguasai pikiran.

Sesekali Pak Budi menjelaskan proses yang berlangsung di train ini. Ketika sampai pada suatu ruang kecil, kami berhenti lalu masuk ke ruang tersebut. Ow… ternyata analyzer yang kami cari bersembunyi di sini. Pak Budi memberikan sedikit penjelasan tentang beberapa bagian. Oh, iya selama di train, kita harus memakai ear plug yang berguna untuk mencegah kebisingan pabrik mengganggu sistem pendengaran. Namun efek sampinya komunikasi pun jadi terganggu. Untuk berbicara pada orang lain, kita harus mendekatkan mulut kita pada orang yang bersangkutan, itupun masih harus berteriak. Wah…. sulit. Hal ini memang cukup mengganggu komunikasi kami, tapi ilmu yang didapat lumayan lah.

Pabrik ini terdiri atas 8 train dan setiap train terdiri atas banyak plant. Setiap proses di dalam satu train independen terhadap train lainnya. Setiap plant di dalam suatu train menjalankan fungsinya tersendiri namun berkaitan dengan plant lainnya. Fungsi pembersihan gas alam hingga pendinginan dan pencairan dilakukan sekelompok plant secara gotong royong. Analyer berada pada salah satu plant dan tersebar di semua train.

Ada beberapa istilah yang tak asing di telingaku. Heat exchanger, turbin, dan kompresor. Yup, di tempat ini aku melihat kompresor segede gajah (bahkan lebih besar lagi). Kompresor ini dikelilingi air yang membeku karena dinginnya kompresor. Entah berapa daya yang diperlukan kompresor ini, yang jelas daya di lab TKL ga akan cukup buat menggerakkan kompresor ini. Salah satu manfaat pembersihan CO2¬ dan komponen pengotor lainnya dari gas alam adalah agar tidak merusak kompresor ini. selain itu juga agar tidak membeku ketika berada di dalam pipa karena suhunya bisa mencapai -169 oC. Jika CO2¬ dan H2O tetap berada di dalam gas alam, maka akan membeku di dalam pipa sehingga akan merusak pipa itu sendiri.

Sip, pencarian ilmu dilanjutkan dengan Pak Soetris. Kali ini kita belajar tentang konsep dasar aplikasi instrumen di dunia industri. Sebagai pembuka, ia bertanya tentang open loop dan close loop control. Lalu aku jawab sejauh yang aku tahu. Setelah itu beliau menambahkan jawabanku dengan jawaban yang lebih aplikatif.

Contoh yang diambil adalah pengukuran kecepatan fluida. Untuk merancang instrumen pengukuran ini, maka kita memerlukan orifice di awal sistem, lalu hasil dari orifice masuk  menjadi data di dalam elemen kontrol (misalnya DCS). Selanjutnya data dari DCS dikonfersi ke dalam besaran listrik (I/P converter) setelah itu masuk ke aktuator, misalnya valve. Itulah model sederhana instrumen di dalam suatu industri. Selain membahas tentang isntrumen, beliau juga membahas tentang sinyal standar untuk arus dan sinyal standar penumatik. Mmm… ternyata baru aku sadari kegunaan ilmu yang aku peroleh di bangku kuliah.

Waduh… ga kerasa sudah pukul 5 sore. Its time to go back to apartement. Ok, thaks a lot Mr. Soetris and Mr. Budi, see u next time.

Ck…ck..ck… pengalaman hari ini sungguh mengesankan. Untuk pertama kalinya aku masuk ke pabrik sebenarnya. Instrumen proses dari jarak dekat. Amazing….. ¬

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Tidur, Siang, dan Malam

Kami jadikan tidur sebagai istirahat, siang sebagai media mencari penghidupan, dan malam sebagai pakaian.

Kira-kira begitulah redaksi terjemahan ayat ke 9-11 An Naba. Ternyata ada makna mendalam di balik ayat tersebut. Setidaknya, ada tiga hal yang menjadi perhatian pada kutipan ayat tersebut. Ketiganya berkaitan dengan waktu dan aktifitas, yaitu waktu tidur, waktu malam, dan waktu siang.

Pertama, adalah tidur. Berbagai penelitian memang mengatakan bahwa tidur adalah cara yang paling efektif untuk mengembalikan stamina setelah lelah melakukan aktifitas. Oleh karena itu, tak salah ketika Allah menjadikan tidur sebagai istirahat kita.

Kedua, adalah waktu siang yang Allah sediakan sebagai media bagi kita untuk mencari ridho-Nya sebanyak mungkin, mencari rizki yang halal sebanyak mungkin. Meskipun demikian, saya rasa taka ada salahnya juga jika ada yang memperpanjang pencarian rizkinya hingga hari berganti malam.

Ketiga, adalah malam. Nah… di sinilah letak istimewanya. Pada ayat tersebut, Allah memisahkan tidur dengan malam, mengapa demikian? Saya rasa (hasil obrolan dengan orang yang lebih paham) Allah memang tidak menjadikan malam sebagai “tempat” tidur semata karena malam hanyalah salah satu pilihan untuk tidur. Sedangkan pada ayat ini justru bukan hal yang berkaitan dengan tidur yang dibahas, tetapi mengenai pakaian.

Kenapa pakaian? Kita samakan persepsi kita mengenai pakaian. Pakaian merupakan alat yang kita gunakan untuk menutup tubuh kita terutama aurat kita. Lantas apa hubungannya pakaian dengan malam?

Ternyata Allah menyiapkan malam sebagai penutup dosa dan kesalahan kita seperti halnya pakaian yang menutup aurat kita sehingga kita tidak malu ketika bersua dengan orang lain. Coba bayangkan anda bertemu dengan orang lain tanpa sehelai kain pun menutupi tubuh anda?

Demikian pula dengan malam yang Allah sediakan sebagai penutup dosa dan kesalahan kita. Bagaimana bisa? Tentu saja dengan banyak beribadah di malam hari. Bukankah Allah menyediakan waktu istimewa pada malam hari bagi para hamba-Nya yang ingin “berkomunikasi” lebih dekat?

So, nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kau nafikan?

rahadian

Posted in self development | Leave a comment

Chapter 4 : ESD-EDP

Chapter 4
Karena terlalu lelah berenang sehari sebelumnya, aku sedikit sulit bangun hari ini. Tapi tidak terlalu kesiangan.

Masih seperti biasa, sarapan ga pernah terlewat sebelum pergi menuju lokasi. Hari ini tujuannya berbeda dari biasanya. Bukan lagi ke training section tapi langsung menuju instrument section. Rencananya hari ini akan menuju zone 1, berkunjung ke beberapa train  dan plant.

Pukul 7 lewat kami sudah sampai di instrument section lalu menuju ruangan mas Defta. Menunggu cukup lama, sekitar 2 jam. Belum ada kabar tentang nasib kami. Tak lama kemudian seorang pegawak yang sepertinya kami telah berkenalan sebelumnya datang menghampiri kami. Oh, iya ternyata dia adalah pegawai di workshop. Beliau mengatakan bahwa Pak Defta bekerja hingga larut malam sehingga harus istirahat dahulu sebelum melanjutkan  pekerjaannya kembali. Aturan di perusahaan ini memang demikian, bahwa seorang pegawai harus istirahat dulu selama sekitar seetngah hari setelah lembur sebelum ia melanjutkan pekerjaannya. Mm… berperikemanusiaan juga ya..

ESD dan EDP
Ternyata semalam terjadi permasalahan cukup besar menimpa beberapa train. Sistem ESD dan EDP aktif sedangkan penyebabnya belum diketahui. Oleh karena itu para pegawai yang terkait dengan train tersebut tengah sibuk mengatasi permasalahan itu.

ESD atau Emergency Shut Down, adalah sustu sistem yang dirancang untuk mengatasi permasalahan fatal yang terjadi. Ketika ESD aktif, jalannya proses terhenti, gas yang telah masuk ke salah satu plant tidak diteruskan ke plant selanjutnya melainkan tetap ditahan dan dikunci atau pun dibuang ke udara luar dan dibakar jika gas tersebut sudah tidak berbahaya. Kerika proses ini terhenti, artinya produksi berhenti. Oleh karena itu ESD alert memang trejadi ketika kondisi sudah sangat gawat sehingga proses harus dihentikan secara terpaksa.

Mm… baru aku ingat bahwa pada malam sebelumnya terlihat api yang begitu besar berasal dari daerah sekitar train. Apinya benar-benar besar. Ternyata api yang begitu besat itu terjadi karena gas yang dibuang lebih banyak dari biasanya. Pembuangan gas ini sebagai bagian dari sistem ESD. Tak terbayang berapa kerugian yang dilami ketika kondisi ESD aktif ini terjadi.

Selain ESD, ada juga sistem pengaman lain yang dinamakan EDP atau Emergency DePressurize. Sistem EDP aktif ketika terjadi kasus kelebihan tekanan pada  plant sehingga tekanan harus diturunkan (depressurze) dengan cara membuang sebagian gas. Lagi-lagi ketika kondisi ini terjadi, gas yang dibuang lebih banyak daripada biasanya dan kerugian pun akan dialami perusahaan.

Katika kedua sistem ini aktif, perusahaan memang mengalami kerugian yang tidak sedikit. Namun hal ini tentu telah diperhitungkan sebelumnya. Seandainya sistem ini tak ada, maka kerugian yang ditanggung boleh jadi akan lebih besar lagi atau bahkan bisa mengancam keberlagsungan produksi selamanya.

Baru saja kami bebicara sebentar tentang ESD dan EDP ini dengan mas Defta , eh.. malam harinya jadi kenyataan. Memang, kondisi di lapangan sangat sulit diduga. Oleh karena itu, setiap pegawai di PT Badak harus siap 24 jam sehari dan 7 hari seminggu untuk mendapat penggilan dari perusahaan ketika ia memang sangat dibutuhkan meskipun ia sedang dalam kondisi cuti. Salah satu kontrak kerjanya menyatakan hal tersebut. Ck…ck… berat juga ya..

Kondisi ini membuat kami berada dalam kondisi tak jelas, karena kami tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi banyak hal yang ingin kami pelajari termasuk aku sendiri ingin mengetahui kondisi yang sedang terjadi saat itu (ESD dan EDP) karena kondisi itu sangat jarang terjadi. Namun di sisi lain apa daya kami, belum banyak hal yang kami ketahui di tempat ini, maklum lah baru juga 3 hari. So, ya… sudah lah kita ke perustakaan saja.

Selama di perpustakaan sepertinya tidak terlalu enak. Keliling2 nyari buku atau bahan bacaan lainnya. Masuk ke bagian makalah mahasiswa, makalah yang dibuat mahasiswa yang pernah KP di PTB. Karena pada malam sebelumnya kami sudah sepakat untuk bagi-bagi tugas dan aku memilih mendalami analyzer, maka bahan bacaan analyzer yang aku cari. Ada beberapa makalah yang bisa menjadi bahan referensi dan contoh tentang topik ini. aku baca baik-baik dari satu makalah ke makalah lainnya. Lama-lama bosen juga karena ternyata yang dibahas sangat mirip. Konsp dasar tentang analyzer sepertinya sudah aku dapat. Ya… intinya ada pada prinsip kromatografi.

Proses kromatografi terjadi ketika terdapat suatu larutan yang terdiri atas beberapa komponen yang menyusunnya., maka setiap komponen akan memiliki kondisi yang berbeda dalam hal status diam dan status bergerak. Larutan yang akan dipisahkan berdasarkan komponen penyusunnya, dipaksa memasukki suatu saluran tertentu yang kita namakan kolom. Larutan masuk ke kolom dengan bantuan gas pembawa yang tak akan bereaksi dengan larutan yang akan kita uji. Larutan yang sudah masuk ke dalam kolom akan mengalami pemisahan berdasarkan kondisi diam dan bergerak. Komponen yang memiliki gaya tarik atom yang kuat akan lebih lambat ketika bergerak sedangkan komponen yang miliki gaya tarik yang lemah akan bergerak lebih cepat. Oleh karena itu secara perlaha larutan tersebuat akan terpisah berdasarkan kkomponen penyusunnya. Komponen berat biasanya memiliki gaya tarik yang lebih kuat daripada komponen yang ringan.

Semaik lama, semakin terasa kebosanannya. Tapi, untunglah ada beberapa pegawai yang mau diajak bicara di tengah kesibukan mereka bekerja. Mulanya pasti para pegawai itu bertanya asal kami, lalu berapa lama kami tinggal. Setelah itu pembicaraan seolah mengalir, saling bercerita. Pembicaraan akan sangat menarik ketika kita bertemu dengan orang yang berasal dari satu daerah yang sama. Misalnya aku bertemu dengan pegawai yang ternyata berasal dari Bandung bahkan tinggalnya di Kiara Condong (deket dengan Antapani), waah… pembicaraan semakin menarik. Maklum ada faktor kesamaan daerah. Awalnya memang membicarakan tentnag daerah dan kebiasaan namun pembicaraan selanjutnya tentang kegiatan yang dilakukan di PTB ini.

Kebetulan ketika itu sedang terjadi masalah di pabrik (aku bahas sebelumnya), so hal itu jadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Beberapa pegawai bercerita tentang sebab terjadinya kasus ESD-EDP yang lainnya bercerita tentang kasus “menyeramkan” lainnya yang pernah terjadi di pabrik.

Aku memperoleh sedikit berita perihal kasus yang sedang terjadi saat itu. Ternyata akar masalahnya ada pada instrumen yang dipakai di train yang bermasalah (salah satunya train H). ESD-EDP pada train tersebut aktif padalah tidak terjadi sesuatu yang begitu bahaya yang membutuhkan ESD-EDP. Jadi dapat dipastikan ada kesalahan pada logika instrumen yang dipakai, dalam hal ini DCS.

Ooo… pantes aja orang-orang dari seksi instrumen pada sibuk selama dua hari ini bahkan sampai ruang kerja mereka kosong melompong. Termasuk mas Defta (sang ahli DCS) yang katanya 2 hari ga tidur gara-gara ngurus masalah ini. Ok, gapapa klo masih sibuk, kita tunggu (walopun bosen juga…).

Sampe sore kerjaan kami Cuma buka-tutup buku di perpus sampe bosen. Sampe sore kami langsung kembali ke apartemen.

Weleh…weleh… what a bored day……

Posted in the journey to Borneo | Leave a comment