Beli Minyak atau Kacang Goreng?*

beli minyak atau kacang goreng* ?

beberapa pekan terakhir ini tengah berkembang isu kurang sedap mengenai susu bayi karena ada masalah dengan unsur atau komponen yang dikandungnya. reaksi masyarakat begitu tinggi karena kandungan suatu produk bukanlah sesuatu yang sepele melainkan jaminan kualitas produk itu sendiri.

 

lantas, apakah kandungan yang dipermasalahkan itu merupakan komponen yang memiliki pengaruh signifikan bagi produk dan konsumen? ya, ga perlu dujawab di sini karena yg bakal dibahas sekarang bukan tentang minuman bervitamin untuk manusia (susu) melainkan “minuman bervitamin” untuk kendaraan, alias minyak atau bahan bakar minyak a.k.a. produk BBM.

 

sepertihalnya ketika kita membeli produk makanan, maka salah satu komponen penting yang perlu kita pertimbangkan, adalah seberapa besar kandungan makanan tersebut memenuhi kebutuhan aktivitas tubuh kita. apakah bisa memberikan energi yg cukup untuk jalan kaki, lari, atau cuma bikin seneng lidah ?

terlebih lagi jika kita ingin membeli satu makhluk bernama BBM. satu hal unik tentang BBM, adalah BBM merupakan barang energi, bukan barang komoditi biasa.

 

kendaraan kita menikmati kandungan energi yang dimiliki BBM, terlepas seberapa banyak timbangan atau volumen BBM tersebut karena jumlah volume yang sama (untuk beberapa jenis BBM) bisa memberikan nilai energi yang berbeda.

saya coba cuplik sebagian data salah satu kuliah tentang distribusi minyak. BBM yang ditampilkan merupakan jenis yang sama, namun berasal dari beberapa produsen.

 

data 1 menunjukkan nilai Rp/liter untuk 5 jenis BBM pada tahun 2009-2010.

BBM A : 5,695.90 (2009) dan 6,503.00 (2010)

BBM B : 5,510.00 (2009) dan 6,100.00 (2010)

BBM C : 5,258.80 (2009) dan 5,650.00 (2010)

BBM D : 5,367.50 (2009) dan 5,790.00 (2010)

BBM E : 5,264.15 (2009) dan 5,650.00 (2010)

 

berdasarkan harga, terlihat bahwa BBM C dan E tergolong paling murah dan berdasarkan motif ekonomi (memilih pengorbanan yang terkecil) tentu akan memilih produk yg memliki cost terendah untuk produk dengan fungsi yang sama.

karena BBM adalah barang energi, maka akan kurang afdol klo tidak menampilkan kandungan energi masing-masing BBM.

data 2 menunjukkan kandungan energi (Mjoule) perliter.

BBM A : 37.87 MJ/l

BBM B : 32.1

BBM C : 32.18

BBM D : 33.64

BBM E : 31.94

 

lagi-lagi berdasarkan prinsip ekonomi (memperoleh keuntungan terbesar) tentu akan memilih BBM A atau D karena memberikan energi lebih besar untuk setiap liternya.

 

tentu hasilnya akan lebih elok jika produk yang kita pilih berdasarkan data 1 sama dengan produk yang kita pilih di data 2.

makan, sekarang kita gabungkan data harga produk berdasarkan kandungan energi yang dimilikinya, Rp/MJ.

BBM A : Rp 171.72/ MJ (harga pasar Rp 6,503.00/l)

BBM B : 190.03 (Rp 6,100/l)

BBM C : 175.60 (Rp 5,650/l)

BBM D : 172.11 (Rp 5,790/l)B

BM E : 176.87 (Rp 5,650/l)

sebagain contoh BBM C, artinya kita membayar sekitar Rp 175.6 untuk setiap paket energi (1 MJ) yang kita pakai.

 

sayang pertama

 

sayangnya, harga yang tertera di pasar bukanlah harga rupiah perenergi (Rp/MJ) melainkan rupiah perliter (seperti yang kita lihat di SPBU). padahal jika kita memilihi BBM B (harga termurah perliter) sebenarnya kita membeli BBM termahal (perenergi). sehingga untuk memperoleh jumlah energi yang diperlukan, kita harus mengeluarkan rupiah lebih banyak lagi.

akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan menjadi masalah seandainya kita sebagai konsumen sudah mengenal produk yang kita gunakan.

so, just know “me” so well before you buy “me”.

 

sayang kedua

 

hal kedua yang disayangkan, adalah ternyata nilai energi perliter tidak dijadikan sebagai salah satu syarat spesifikasi produk BBM.

 

seperti yang kita ketahui, bahwa BBM memiliki parameter-parameter standar yang dipersyaratkan oleh badan terkait (misal, kementerian ESDM di Indonesia). parameter yang menjadi syarat, di antaranya nilai oktan, kadar sulfur, kadar timbal, warna, pour point, kandungan material, densitas, dan flash point.

 

bahkan, dari semua parameter tersebut, yang paling sering muncul, adalah nilai oktan dan kadar sulfur. sebagai informasi, semua BBM yang dijadikan sampel di atas sudah memenuhi syarat layak BBM di Indonesia. dengan kondisi ini, sang produsen bisa saja mempermainkan nilai energi dengan hiasan nilai oktan, kadar sulfur, dan parameter-parameter lainnya.

 

saya sempat menanyakan apakah tidak ada badan dunia yang menyertakan kandungan energi perliter sebagai salah satu syarat layak sebuah BBM. jawabannya, tidak ada (atau mungkin saya dan orang yang saya tanyakan memang belum tahu).

kenapa hal ini menjadi penting? tentu saja, dengan nilai energi/liter yang besar maka konsumsi energi akan lebih rendah a.k.a. lebih hemat energi dari sisi jumlah.

 

saya pun heran, kenapa belum ada badan yang memberlakukan hal ini, padahal isu mengenai green energy dan hemat energi tidak pernah tergantikan di setiap harian atau surat kabar di seluruh dunia. mudah-mudahan keheranan saya ini karena ketidaktahuan dan diberi kesempatan untuk mencari tahu lebih lanjut dan tentu saja memberitahu pada yg belum tahu, serta mengingatkan pada yang lupa.

 

urusan dengan BBM memang agak rumit karena menyangkut hajat hidup orang banyak. BBM tidak hanya urusan jual beli barang, melainkan juga urusan ekonomi masal, sosial bahkan hingga urusan politik. -mungkin ini juga yang menyebabkan VOC datang ke Indonesia era dahulu (dan mungkin juga sekarang, dengan perusahaan yang sama).

 

saya tersadarkan tentang pentingnya benar-benar mengenal produk yg kita gunakan. jangan sampai “membeli minyak dalam karung”, hanya melihat harga dan sebagian kandungannya.

 

so, membeli BBM memang tidak seperti membeli kacang goreng yang tinggal ditimbang atau diserok atau dirawu (bahasa sunda), ditimbang dan dibungkus. tetapi lebih dari itu, karena BBM adalah barang energi.

 

*) tidak bermaksud merendahkan kacang goreng, hanya sebagai penyedap judul saja.

 

About rahadiansunandar

mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan di TF ITB 2005-2010. sekarang sedang meniti karir di salah satu perusahaan minyak nasional terbesar di negeri tercinta Indonesia.
This entry was posted in all about oil and gas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s