“Ospeknya” PTB

Chapter 8

Hari ini rencananya kami akan bertemu dengan pembimbing sementara kami, Pak Mardjoko untuk membicarakan jadwan orientasi kami (ospeknya PTB). Selama kami di sini memang nasib kami tidak jelas karena ketika kami datang, salah satu train (unit proses) mengalami trip (berhentinya proses) dan akar masalahnya ada pada bagian instrumen, tepatnya sistem ESD-nya (Emergency Shutdown System) sehingga orang-orang yang sedianya membimbing kami harus mendahulukan kepentingan pabrik.

 

Hari ini, Senin (satu minggu setelah kedatangan kami), seharusnya jadwal dan surat resmi mengenai orientasi kami telah selesai. Benar saja, suratnya sudah dibuat dan tinggal menunggu tanda tangan dari section head, Pak Deded.

 

Selain membicarakan tentang jadwal orientasi, kami juga membicarakan tentang pembagian kerjaan atau dengan kata lain pembagian tugas khusus. Pak Joko menawarkan dua topik, yaitu mengenai trip yang sedang terjadi (ESD) dan mengenai Gas Chromatograph. Materi ESD sedianya akan dibahas oleh dua orang dari kami karena jika dibahas sendiri terlalu banyak sedangkan jika dibahas bertiga terlalu boros SDM. Akhirnya setelah sedikit berunding, materi ESD akan menjadi kerjaan aku dan Maya sedangkan Ratno mendapat bagian di GC. Ok, pembagian kerjaan sudah semakin jelas, sekarang tinggal mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan tersebut.

 

Kami kembali mengunjungi instrument section. Ratno masuk ke bagian analyzer, tempat GC berada sedangkan aku dan Maya masuk ke bagian DCS untuk mempelajari ESD. Aku dan Maya langsung diajak terjun ke train yang sedang mengalami masalah (train H). Tanpa menunggu lama, mas Defta membimbing kami bertandang ke pabrik.

 

Bertandang ke train H

Perlahan dan penuh kebanggaan, kami memasuki kawasan jantung PTB ini. Langsung menuju train H. Tapi sebelum terjun lebih jauh, kami harus membuat surat izin dahulu. Oleh kerena itu kami masuk ke control room, tempat di mana semua kendali proses termonitor dan terkontrol. Seluruh proses kontrol di pabrik ini dapat dikendalikan dari tempat ini, oleh karena itu tempat ini dapat dikatakan juga sebagai otaknya sistem kontrol pabrik ini.

 

Selama ini aku hanya tahu bentuk control room dari gambar kartun ketika belajar Kontrol Otomatik, tapi sekarang aku menyaksikannya sendiri. Ck…ck… dahsyat benerr….

 

Dari CR ini kita dapat melihat proses yang sedang terjadi termasuk ketika ada masalah di lapangan. Bahkan jika masalahnya tidak terlalu rumit, dapat diselesaikan di tempat ini juga. Mas Defta menjelaskan proses yang sedang terjadi dengan bantuan tampilan diagram proses di layar monitor DCS. Benar-benar kita dapat melihat proses yang sedang terjadi. O, iya kebetulan saat itu salah satu train sedang ada masalah dan di monitor masalah itu juga muncul. Selain itu juga ada televisi yang menayangkan gambaran aktual kegiatan yang sedang terjadi di pabrik. Saat itu ternyata sedang terjadi kepulan asap yang hitam pekat entah berasal dari mana. Kemungkinan asap itu terjadi karena pembakaran yang tak sempurna.

 

Ok, setelah beres mengurus perizinan, kita siap mengunjungi box ESD di train H. Sambil berjalan menuju lokasi, mas Defta menjelaskan sedikit mengenai beberapa “benda asing” yang kami temui di sepanjang jalan. Sebenarnya bukan benda asing siy, aku yakin rekan-rekan di TF sudah cukup mengenal benda-benda tersebut. Ada exchanger, ESD valve, turbine, pipe line, dll.

 

Sampai di bix ESD train H. Ternyata isinya Cuma kotak-kotak ga jelas, tapi rasanya aku kenal ini kotak. Kotak mirip box DCS yang ada di lab Sisin tapi dengan ukuran yang lebih besar, sekitar 2 sampai tiga kalinya. Setelah aku tanya apa isi di dalam kotak tersebut, ternyata bukan hanya DCS tepi ada juga relay,  fire monitoring,dan sistem ESD. Kode kotak untuk instrumen adalah 52, artinya isntrumen berada di plant 52 di train H ini sedangkan kode untuk safety adalah 33 (plant 33). ESD masuk ke plant 33 sedangkan DCS berada di plant 52.

 

Beberapa kotak misterius itu kami buka, trenyata isinya adalah CPU, relay, kabel-kabel, dan DCS card. Kotak DCS di sini mirip dengan DCS yang ada di kantor mas Defta namun dengan card yang lebih sedikit (tentu saja hal ini tergantung pada berapa banyak elemen yang dikontrol). Masuk ke bagian ESD. Pada bagian ata skotak terdapat tulisan: “Industrial Control System ICS”). Sepertinya itu menunjukkan vondor yang membuat instrumen tersebut.

 

Setelah kami buka, mas Defta kaget karena dua lampu indikator intikator salah satu CPU di salah satu kotak ESD aktif. Lampu merah yang aktif ada pada bagian run, artinya sistem ini sudah tidak bekerja lagi dan jika satu lampu lagi aktif, maka alat ini benar-benar sudah tak bisa jalan.

 

Akhirnya dia manggil orang-orang yang terkait dengan permasalahan tersebut. Dalam sekejap, beberapa orang yang ga aku kenal sudah ada di lokasi lalu mereka membicarakan sesuatu yang aku ga mengerti, yang aku mengerti hanyalah bahwa salah satu bagian penting alat (ESD) tersebut harus diganti agar alat tersebut dapat berfungsi kembali.

 

Selama orang-orang itu mengurusi ESD, aku Cuma bengong ngeliatin, dengerin omongan mereka.

 

Sampe masuk waktu istirahat, masalah itu sepertinya belum selesai. Yo weiss.. aku dan Maya keluar train duluan.

 

Kembali ke seksi instrumen lalu menunggu jemputan untuk menuju apartemen.

 

Rencanany ESD ini akan menjadi topik tugas khusus. Padahal aku belum mengerti sama sekali tentang ESD ini. Tapi, ga masalah lah, selama masa orientasi ini topik tugas khusus kan masih ada kesempatan diganti jika dirasa tak layak dan tak mungkin diselesaikan dalam waktu yang telah disediakan.

 

Kolamnya pindah ke jalan

Selesai makan siang, kami kenbali menemui Pak Marjoko. Setelah mengunjungi train H dan mendengan sekelumit tentang permasalah ESD, ternyata Maya memutuskan untuk berpindah topik karena alasan tertentu. Kepindahannya membuat aku ditinggal sendiri menghadapi masalah  ini. Waaah… tantangan besar nih…

 

Hingga sore aku mencari bacaan yang berkaitan dengan ESD ini. Beberapa buku sepertinya berkaitan dengan topik ini namun bahasannya terlalu umum dan filosofis, bukan sesuatu yant teknis. Tapi ga apalah, lumayan untuk belajar.

 

Sore hari aku masih penasaran karena seahri sebelumnya ga jadi renang, jadi sore ini rencananya akan menuju tempat renang. Alhamdulillah, tempatnya sepi, cuma ada dua orang anak kecil. Sip, langsung siap nyebur.

 

Tapi, keadaan di Bontang ini memang sulit di duga, baru saja rencana ke tempat renang itu diputuskan karena cuaca saat itu sangat cerah bahkan panas, lah.. pas mo nyebur tiba-tiba hujan, langsung lebat pula. Weleh..weleh… ga jadi lagi donk.

 

Masalah belum selesai, bung. Sekarang kita terjebak di tempat ini dan ga bisa pulang karena hujan turun dengan derasnya. Jadilah kita nunggu sampe agak reda. Ya.. sepertinya bakal lama kalo nunggu sampe hujannya beres, jadi kita terobos aja. Akhirnya kita balik ke apartemen dengan menerjang hujan. Ga jadi renang di kolam, malah renang di jalan.

 

 

 

About rahadiansunandar

mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan di TF ITB 2005-2010. sekarang sedang meniti karir di salah satu perusahaan minyak nasional terbesar di negeri tercinta Indonesia.
This entry was posted in the journey to Borneo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s