Tidur, Siang, dan Malam

Kami jadikan tidur sebagai istirahat, siang sebagai media mencari penghidupan, dan malam sebagai pakaian.

Kira-kira begitulah redaksi terjemahan ayat ke 9-11 An Naba. Ternyata ada makna mendalam di balik ayat tersebut. Setidaknya, ada tiga hal yang menjadi perhatian pada kutipan ayat tersebut. Ketiganya berkaitan dengan waktu dan aktifitas, yaitu waktu tidur, waktu malam, dan waktu siang.

Pertama, adalah tidur. Berbagai penelitian memang mengatakan bahwa tidur adalah cara yang paling efektif untuk mengembalikan stamina setelah lelah melakukan aktifitas. Oleh karena itu, tak salah ketika Allah menjadikan tidur sebagai istirahat kita.

Kedua, adalah waktu siang yang Allah sediakan sebagai media bagi kita untuk mencari ridho-Nya sebanyak mungkin, mencari rizki yang halal sebanyak mungkin. Meskipun demikian, saya rasa taka ada salahnya juga jika ada yang memperpanjang pencarian rizkinya hingga hari berganti malam.

Ketiga, adalah malam. Nah… di sinilah letak istimewanya. Pada ayat tersebut, Allah memisahkan tidur dengan malam, mengapa demikian? Saya rasa (hasil obrolan dengan orang yang lebih paham) Allah memang tidak menjadikan malam sebagai “tempat” tidur semata karena malam hanyalah salah satu pilihan untuk tidur. Sedangkan pada ayat ini justru bukan hal yang berkaitan dengan tidur yang dibahas, tetapi mengenai pakaian.

Kenapa pakaian? Kita samakan persepsi kita mengenai pakaian. Pakaian merupakan alat yang kita gunakan untuk menutup tubuh kita terutama aurat kita. Lantas apa hubungannya pakaian dengan malam?

Ternyata Allah menyiapkan malam sebagai penutup dosa dan kesalahan kita seperti halnya pakaian yang menutup aurat kita sehingga kita tidak malu ketika bersua dengan orang lain. Coba bayangkan anda bertemu dengan orang lain tanpa sehelai kain pun menutupi tubuh anda?

Demikian pula dengan malam yang Allah sediakan sebagai penutup dosa dan kesalahan kita. Bagaimana bisa? Tentu saja dengan banyak beribadah di malam hari. Bukankah Allah menyediakan waktu istimewa pada malam hari bagi para hamba-Nya yang ingin “berkomunikasi” lebih dekat?

So, nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kau nafikan?

rahadian

About rahadiansunandar

mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan di TF ITB 2005-2010. sekarang sedang meniti karir di salah satu perusahaan minyak nasional terbesar di negeri tercinta Indonesia.
This entry was posted in self development. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s