chapter #1

Pabrik PTB

Pabrik PTB

3 a.m.

Penantian selama sekitar setengah tahun akgirnya terjawab juga. Mengajukan lamaran Kerja Praktik sejak November 2007 lantas mendapat jawaban pada Januari 2008. Setelah mengurus segala administrasi dan segala persiapan yang diperlukan, akhirnya pada 9 Juni 2008 kami (saya, Ratno, dan Maya) memulai keberangkatan menuju Bontang , Kalimantan Timur.

Pergi dari rumah sekitar pukul 3 dini hari karena mendapat jadwal keberangkatan pesawat dari Soekarno-Hatta pukul 9 pagi. Pukul 4 pagi kami berengkat dengan bus menuju BSH. Sampai di BSH pukul 7 pagi, lumayan untuk istirahat sebelum take off. Pukul 8 harus sudah check in di bandara lalu menunggu keberangkatan Garuda Indonesia GA512 economy class. Setelah berbagai pemeriksaan, kami masuk ke pesawat dan………….

Alhamdulillah take off berlangsung lancar. Wah…ini pengalaman pertama saya naik pesawat… seru bos.. apa lagi pada detik-detik take off , menegangkan….

Selama berada di dalam pesawat, ponsel tak boleh diaktifkan. Ponsel yang kita gunakan melibatkan sejumlah sinyal dengan frekuensi tertentu. Pesawat pun menggunakan sinyal tertentu dalam dalam sistem navigasinya. Jika sinyal ponsel hadir ketika sinyal navigasi pesawat sedang aktif, maka sinyal ponsel itu akan berperan sebagai noise. Ngerti maksud noise, kan ? kalo pernah ngambil Pengolahan Sinyal pasti tau maksudnya noise. Noise ini akan sangat mengganggu karena dapat menyamarkan sinyal navigasi pesawat yang dibutuhkan. Kerja signal filter akan semakin berat dengan kehadiran noise ini. Jika noise ini tak mampu dihilangkan, maka sistem navigasi pesawat akan benar-benar terganggu dan jika sistem ini terganggu, maka aku jamin penerbangan kita akan sangat tidak menyenangkan.

Tak lama kemudian, mbak pramugari sibuk menawarkan makanan dan minuman kepada para penumpang. Sesaat aku berpikir… itu makanan gratis apa bayar ya ??? bertanya-tanya sendiri… aku teringat perjalanan memakai kereta, ketika itu para petugas kereta api menewarkan makanan dan minuman dua kali. Penawaran pertama memang gratis tapi yang kedua ternyata bayar (aku diberitahu penumpang sebelahku bahwa makanan itu bayar). Saat itu keretanya kelas bisnis. Nah… berdasarkan pengalaman tersebut, aku jadi bertanya-tanya tentang status makanan yang ditawarkan si mbak pramugari itu.

Semakin dekat…semakin dekat…. akhirnya sampai di kursiku. Ahhh…. embat aja lah (masa’ embat aja dong…). Tanpa tanya-tanya lebih jauh, langsung saja aku jawab penawaran si mbak dengan: “nasi goreng….. “ kemudian “teh manis..”. Makan dengan tenang. Melihat sedikitnya makanan yang disuguhkan, aku pastikan bahwa ini makanan gratis. Yes !!! ternyata memang gratis…. (sayang ga bisa nambah…).

Turbulance

Perjalanan memakan waktu 1 jam 53 menit (info dari Pak Pilot). Penerbangan mamasuki setengah perjalanan, tiba-tiba suara pak Pilot dan mbak Pramugari terdengar dari pengeras suara secara bergantian menyampaikan kondisi penerbangan terkini. Inti kabar yang disampaikan adalah bahwa penerbangan kami saat itu kurang baik karena tidak didukung cuaca yang bagus. Olehkarena itu semua penumpang harus selalu mengenakan sabuk keselamatan. Waduh …. masa’ penerbangan pertama langsung mendapat pengalaman yang buruk. Beberapa kali berita itu diperdengarkan. Selain itu ditambah juga kabar lain yang menyatakan bahwa kondisi suaca Balikpapan saat itu sedang gerimis. Mmm…… semakin menegangkan saja. Bung …..

Beberapa kali terasa gerakan pesawat yang bergoyang ke sana ke mari dan terasa juga beberapa guncangan kecil. Pesawat berada sekitar 130 000 kaki di atas permukaan laut. Oleh karena itu yang terlihat dari jendela penumpang hanyalah gunpalan awan putih dan langit biru.

Rupanya penerbangan hampir beres. Pak Pilot mengatakan bahwa kita akan sampai sekitar pukul 12.53. Lalu saya liat jam tangan…. lho !!! qo masih jam 10.30an ?? masih lama dong … sesaat pikiran itu muncul, tapi tak lama lalu tersadarkan bahwa saya sudah memaasuki waktu Indonesia tengah, artinya waktu lebih cepat satu jam. Weleh …weleh…. bodo kali ..

Welcome to Boardreverse

Sekitar pukul 1 siang kami tiba di bandara Sepinggan Balikpapan, alhamdulillah… lancar..

Sampai di Balikpapan, kami bertiga sedikit bingung harus ke mana (maklum baru pertama kali). Lalu teringat sesuatu bahwa PT Badak punya kantor perwakilan di bandara tersebut. Sip… langsung cari dan melapor. Yup… ketemu, segera bicara dengan petugas yagn ada di sama.

Pak Petugas menunjukkan beberapa lembar kertas yang berisi daftar nama. Wah…. ternyata ada nama kami ditambah Dini. Mmm…bingung, qo ada nama Dini ya ?? tapi, sudahlah… ga perlu diurus lebih lanjut.

Petugas itu memberi kami 3 tiket penerbangan perintis dengan Pelita Air menuju Bontang. Check in pada pukul 13.00. wah …masih jam setengah satu, istirahat dulu setengan jam.

Jam 1 kurang 10 menit, kami mengantri di loket Pelita Air.

Saya yang dapet giliran menghadap petugas di loket yng kebetulan cewe. Tak banyak bicara, hanya pembicaraan yang aku kira pembicaraan yang sudah standar. Aku ditanya apakah akan menggunakan jasa bagasi, lalu aku jawab “ya..”, lalu bagasi kami ditimbang. Setelah semuanya ditimbang, si mbak itu memberikan kembali tiket kami beserta beberapa tambahan tempelan. Lantas aku bertanya: “bagasinya, mbak ?” Lalu si mbak menjawab: “kan sudah ada tandanya tertempel di tiket…”. Bingung…. dalam hati aku bergumam, maksudnya bertanya tentang bagasi itu apakah jasa bagai itu bayar atau tidak dan kalau harus bayar, berapa bayarnya… eh… malah mendapat jawaban yagn lain… tapi ya sudahlah. Kami pergi dan kami anggap jasa bagasi itu tak bayar (karena petugasnya tak pernah menagih bayaran).

Jadwal keberangkatan pukul 14.45, so masih ada waktu luang lumayan banyak. Makan siang sambil istirahat sebentar sambil chatting. Gak kerasa udah jam 2 lewat. Yup, bergegas ke ruang tunggu dekat pintu masuk pemberangkatan.

Menuju Bontang

14.30, kami mulai check in lalu masuk bus yang mengantar kami menuju pesawat perintis. Pesawat Pelita Air Dash 7 emang ga segede boeing 737 yang kita pake sebelumnya karena Cuma buat skala antarkota dalam pulau (alah… mirip bus aja, antarkota dalam propinsi). Pesawat berangkat sekitar jam 3 kurang 1/4. Mmm… kebisingan pesawat cukup menggangu penumpang, sampe2 klo kita ngobrol harus agak keras. Eh, ada yang lucu. Waktu pake Garuda, informasi keselamatan penerbangan disampaikan secara visual lewat televisi sedangkan di pesawat perintis ini aturan keselamatan diperagakan langsung oleh mbak pramugari (yang lumayan… tinggi…). Hal yang aneh adalah si peraga gak berbicara sama sekali tentang apa yang sedang ia lakukan karena suara pengantarnya berasal dari pengeras suara (yang ga keras dan ga jelas sama sekali) yang pembicaranya entah berada di mana. Jadinya pengen ketawa sendiri, seolah dia lagi main pantomim (hehe… maap ya mbak..). Pengen ketawa tapi ga etis padalah aku ykin bahwa kebanyakan penumpang juga pengen ketawa (sekali lagi maapin ya mbak…).

Take off lancar sampai ketinggian sekitar 30 000 kaki. Pemandangan bumi Borneo dari udara muali tampak. Amazing….. di sekitar bandara perumahan penduduk cukup ramai namun semakin ke dalam yang ada hanyalah hamparan pemandangan hijau dan diselingi garis2 coklat dan hitam. Mamang seperti itu suasana Kalimantan Timur ini. sebagian besar masih ditutupi kebun dan hutan lebat. Lebatnya hutan Borneo dibelah keelokan sungai-sungai besar khas Kalimantan. Sepanjang perjalanan pemandangan seperti itu seolah tak ada habisnya, sesekali terlihat sekelompok perumahan penduduk. Jangan dibayangkan bahwa maksud “sekelompok” itu berarti posisi rumah yang saling berimpitan seperti di tanah Jawa ini, karena jarak tedekat antar rumah bisa tiga hingga lima kali lebar rumah tersebut dan jarak antak sekelompok rumah saya ibaratkan seperti jarak antar kecamatan di Bandung. Satu rumah bisa memiliki pekarangan yang luasnya mungkin tiga kali ukuran rumahnya.

Perjalanan berhenti sejenak di PT VICO lalu berangkat lagi menuju PT Badak yang jaraknya hanya sekitar 15 menit penerbangan.

Tampak dari atas pesawat pemandangan pantai dan laut lepas. Tampak pula anjungan lepas pantai dan kapal-kapal tanker yang pabalatak di sana-sini. Dari atas pesawat, anjungan itu hanya sebesar kuku jari kelingking (yaa.. kira-kira lah..).

Semakin dekat… dekat…..

Tanki-tanki besar mulai terlihat, pipa-pipa saluran (bukan pipa paralon saluran air) berukuran jumbo juga mulai terlihat, sepertinya pipa untuk menyalurkan gas. Pemandangan ini menandakan bahwa kami sudah sampai di lokasi PT Badak NGL.

Pesawat mendarat dengan mulus. Ambil perlengkapan lalu masuk ke lobby kedatangan dan….. lagi-lagi…. bingung mo ngapain. So, kita tanya pak satpam (yang kayanya orang jawa). Setelah ditanya perihal kedatangan kita, ternyata memang tak ada yang benar-benar sedang menunggu kedatangan kami. Tapi jangan khawatir, ada yang siap nganter. Ok, kami tunggu, Pak ….

Apartemen ??

Sepuluh menitan, mobil jemputan datang dan kami diantar ke apartemen (mereka mentebutnya demikian). Ternyata nama kami sudah ada di daftar penghuni, so tinggal ambil kunci dan…selamat menikmati…

Kami dapet dua kamar. Aku tidur bareng Ratno (maksudnya sekamar dengan Ratno) klo Maya tidur bersama… barang bawaannya, seperti baju, laptop, dll dan yang pasti tidur bersama… doa restu kedua orang tuanya.

Gak salah emang klo tempat ini disebut apartemen karena fasilitasnya, bung… maknyuuusss… setiap kamar memiliki AC dan ada dua tempat tidur springbed lengkap dengan kamar mandi dan televisi bersaluran indovision. Lumayan lah… bisa nonton final NBA (LA Lakers vs Glasgow Celtics). Ck…ck..ck… bahaya nih… bisa-bisa gak mau pulang…..

Ok… istirahat bentar terus mandi, btw baru sadar klo kami belum mandi sejak berangkat dari Bandung..(waaa…). Setelah beres-beres pakaian dan istirahat bentar terus mandi supaya gak mengganggu kenyamanan orang lain. Abis mandi terus solat Magrib dulu, bos… baru makan.

Well, di sini ternyata udah ada anak ITB yang datang duluan. Dua orang T. Mesin dan seorang T. Industri. Lumayan buat temen ngobrol.

Nah… ini nih bagian yang gak boleh dilupakan… makaaaan. Masuk ke tempat makan, restoran. Gratis, cuy !!! masuk ke ruang makan, weleh…weleh…. gak kebayang klo 2 bulan di sini berat badan bakal nambah berapa kilo ya…..

Meja pertama tepat setelah pintu masuk adalah sajian makanan berat ala paresmanan. Wow… ngambil sesuai selera. Duduk di meja makan yang tersedia. Tengok ke kanan sedikit, ada semangka dkk. yang pasti menyegarkan. Tengok kiri dikit, ada sirup melon dan ice cream mirip flurry-nya McD. Pas banget di hadapan, ada minuman hangat kopi dan teh. Waduh… lagi-lagi, bung…. bingung mo pilih yang mana….

Wah, pokoknya lengkap dah, benar-benar perbaikan gizi terutama untuk para koster (maksudnya anak kost).

Beres makan kita tidur (setelah solat tentunya).

Beuuuh….. nyaman betul hidup ini yak, nonton tv, istirahat, makan gratis, trus tidur. Waduh… waduh….

Ok, kisah kita belum berakhir. Ini baru hari pertama, masih ada kisah-kisah seru dua bulan ke depan.

***

About rahadiansunandar

mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan di TF ITB 2005-2010. sekarang sedang meniti karir di salah satu perusahaan minyak nasional terbesar di negeri tercinta Indonesia.
This entry was posted in the journey to Borneo. Bookmark the permalink.

2 Responses to chapter #1

  1. ratno says:

    peka jg dirimu bi…
    bgs bgt bi ceritany..
    di upload yg berikutny donk…

  2. vhynaulia says:

    =)) pantomim reeekk… tega nian dirimu by! =))

    – bagian terbaik –
    Tanpa tanya-tanya lebih jauh, langsung saja aku jawab penawaran si mbak dengan: “nasi goreng….. “ kemudian “teh manis..”. Makan dengan tenang. Melihat sedikitnya makanan yang disuguhkan, aku pastikan bahwa ini makanan gratis. Yes !!! ternyata memang gratis…. (sayang ga bisa nambah…)

    *kok aku ndak tahu yaa… lain kali harus coba!* (mumpung gratis) =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s