Ibnu Sutowo: Saatnya saya bercerita (sedikit ulasan)

seperti yang pernah saya dapatkan dari Dr. Yusuf Qardawi, bahwa ada 5 jenis ilmu yang wajib kita pelajari. pertama, adalah ilmu akidah. dalam bahasa lebih luas bisa kita katakan sebagai ilmu mengenai keyakinan atau ideologi yang dengannya kita bisa mengatakan “sesuatu” adalah benar atau salah. kedua, adalah ilmu bahasa. ketiga, adalah sejarah. selebihnya, adalah ilmu kemasyarakatan serta sains dan teknologi yang menjadi ujung tombak perkembangan zaman.

salah satu jalan kita mempelajari sejarah, adalah dengan membaca kisah seseorang yang hidup di masanya, biografi. buku ini (Ibnu Sutowo: Saatnya saya bicara) bukan sekadar biografi seorang Dr.h.c. Sutowo, tapi juga salah satu persimpangan sejarah republik ini yang mulai terlupakan.

salah satu alasan kenapa saya memburu buku ini, adalah karena adanya satu topik dalam buku tersebut yang bertajuk “yang disebut ‘krisis Pertamina'”. so, setelah membaca beberapa pendahuluan, perhatian saya langsung terbawa ke halaman 337 tempat tajuk tersebut berada.

Yang disebut “Krisis Pertamina”

1974. Pertamina masih di bawah pimpinan Ibnu Sutowo. perusahaan yang mulai menjadi remaja ini, sedang menggiatkan pembangunan di mana-mana. maka, tak salah jika saat itu berani mengambil pinjaman jangka panjang sebesar US$ 1.7 miliar dari salah satu bank di negeri opa Sam.

perjanjian kredit sudah disepakati dan siap diambil, namun perlu menunggu beberapa waktu (karena belum waktunya untuk diambil) dan mesti ada beberapa peraturan yang harus dipenuhi.

pada masa penantian kucuran pinjaman, Pertamina  sudah memulai beberapa proyek besar, seperti Krakatau Steel dan Otorita Batam. lantas  Pertamina melakukan pinjaman jangka pendek (shirt term loan)  pinjaman jangka panjang yang belum keluar.

belum rampung proyek yang dijalankan, tersiar kabar bahwa pinjaman jangka panjang (yang telah disepakati) tidak bisa dicairkan. titik awal krisi dimulai di sini.

tak bisa dipahami mengapa pinjaman tersebut tidak bisa cair. “siapa yang menghalangi? siapa yang menjegal? apa sebabnya?”.

1973. krisis energi terjadi di negara-negara industri barat, dimulai di Amerika dan meluas ke Eropa hingga Indonesia. sedangkan di belahan dunia lain terjadi gejolak (perang) Arab-Israel (6 Oktober 1973). seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika (AS) berpihak pada Israel. maka, Mesir dan negara-negara Arab lainnya menggunakan minyak sebagai senjata. embargo minyak melanda AS dan Eropa Barat. pada sisi lain, OPEC gagal menyepakati harga minyak yang baru dengan maskapai minyak internasional.

ketika itu, harga minyak melonjak 4 kali lipat.

kembali ke Indonesia. pada masa itu, pembangunan tengah giat terjadi. Pertamina tak hanya berperan sebagai unit ekonomi, tetapi juga sebagai government agency, penyalur tunggal bahan minyak dan pupuk, serta tulang punggung penunjang pelaksanaan Pelita.

“bangunlah sesuatu, supaya ada sesuatu yang dikontrol. sementara orang lebih memberikan tekanan pada kontrol dan kurang pada usaha pembangunan negeri ini. apa yang akan dikontrol kalau tak ada orang yang membangun sesuatu?”.

maka di bawah restu pemerintah, geliat pembangunan itu terus berlangsung.

1972. dewan komisaris dibentuk untuk Pertamina. terjadi ketidakcocokan antara dewan komisaris (yang terdiri atas beberapa menteri sekaligus golongan teknokrat) dengan pemegang eksekutif Pertamina.

ketika itu, Bank Dunia (WB) berbeeda pendapat tentang pembangunan proyek pupuk terapung di Attaka, Kalimantan Timur. menurut WB, Indonesia jangan membuat pabrik pupuk baru karena WB memperkirakan akan timbul over produksi.

“sementara itu saya (Ibnu Sutowo)-dan juga Presiden Soeharto- yakin bahwa Indonesia akan mampu menyerap 2-2.5 juta ton pupuk/thn. sedangkan kapasitas pabrik pupuk ketika itu masih di bawah kebutuhan”.

pembangunan pun terus berlangsung (tanpa bantuan WB).

apa yang terjadi kemudian?

pada 1973 terjadi gejala kekurangan pupuk sedunia, untunglah Indonesia selamat (berkat pembangunan pabrik pupuk tersebut).

“saya tahu, para teknokrat itu ada hubungan dengan bank dunia, dengan Dana Moneter Internasional, dengan IGGI. dan di belakang Bank Dunia dan sebagiannya itu ada perusahaan-perusahaan minyak raksasa. harap maklum bagaimana pengalaman saya menghadapi perusahaan raksasa itu. harap maklum, usaha saya mulai dari menghilangkan konsesi-konsesi itu sampai meletakkan Kontrak Bagi Hasil (yang mengurangi keuntungan perusahaan minyak raksasa).”

kemudian, 1974 terjadi penyetopan rencana pinjaman jangka panjang US$ 1.7 miliar dari bank di Amerika. padahal Pertamina sudah melakukan pinjaman jangka pendek dari Bank di Timur Tengah untuk melakukan pembangunan (di antaranya Krakatau Steel). utang jangka pendek berarti harus segera dibayar. maka, jelas Pertamina mengalami kesulitan keuangan.

Pertamina belum sempat menyetorkan uang minyak Caltex ke kas negara sebesar US$ 200 juta. kemudian, secara ramai-ramai bank-bank pemberi pinjaman melakukan penagihan utang jangka pendek. mereka enggan mengulur waktu pembayaran dengan alasan kekurangan uang akibat kelesuan ekonomi dunia.

Pertamina benar-benar mengalami kesulitan keuangan. Krisis Pertamina.

“terus terang waktu itu saya teledor”.

“saya kemudian menjadi bingung, kok pinjaman itu terus hilang begitu saja. mengenai siapa yang menjanjikan pinjaman itu, dikatakan bahwa pinjaman itu memang datang dari Timur Tengah, bukan dari konsorsium. tetapi ditawarkan melakui surat dari sebuah bank di London.”

entah apa penyebab sebenarnya sehingga permasalahan keuangan itu muncul. apakah ada yang khawatir jika negeri ini berkembang, atau ada sebab lain?

masih banyak kisah yang bisa digali, dari seorang Ibnu Sutowo yang memulai karir sebagai seorang dokter. masuk angkatan bersenjata dan terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan. mendapat amanah sebagai “dokter minyak” untuk mengobati permasalahan perminyakan Indonesia. menutup karir sebagai pengabdi di PMI dan Badan Pengambangan Wallacea.

-baca selengkapnya… :D -

About these ads

About rahadiansunandar

mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan di TF ITB 2005-2010. sekarang sedang meniti karir di salah satu perusahaan minyak nasional terbesar di negeri tercinta Indonesia.
This entry was posted in all about oil and gas, populer. Bookmark the permalink.

2 Responses to Ibnu Sutowo: Saatnya saya bercerita (sedikit ulasan)

  1. ikhwan alim says:

    hohoho,,,baru nemu ni blog.. hehe..moga diapdet terus,bang!

    cek juga yah :
    http://strategibisnisanda.com
    http://amazingpublicspeaking.wordpress.com

  2. rahadiansunandar says:

    baru dibuka lagi, pa. hehe.. masih perlu banyak belajar tentang blogging ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s